Tampilkan postingan dengan label Bedah Tokoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bedah Tokoh. Tampilkan semua postingan

Senin, 16 Oktober 2017

Fransico Guterres Lu Olo, Presiden Timor-Leste Ke-IV

Fransisco Guterres Lu Olo, Presiden Timor-Leste Ke-IV

A.       Biografi Singkat dan Latar Belakang Pendidikan Fransisco Guterres Lu Ã“lo

Fransisco Guterres  atau yang biasa disebut sebagai Lú Ólo, lahir di Ossu, Municipio Viqueque, pada tanggal 7 September 1954. Dia adalah putra dari Felix Guterres dan Elda da Costa Guterres, dan  merupakan anak ke-enam dari 8 (delapan) bersaudara. Istrinya bernama Cidalia Lopes Nobre Mouzinho Guterres. Mereka dianugrahi 4 (empat) orang anak, antara lain; Fransisco Cidalino Guterres, Eldino Nobre Guterres, Felezito Samora Guterres dan Dalia Guterres.[1] Fransisco Guterres merupakan nama yang diberikan pada saat Ia dibabtis, sedangkan Lú Ólo adalah kode gerilya atau kode perjuangan selama perang melawan kolonialisme Indonesia selama masa Invasi di Timor-Leste.[2] 
Fransisco Guterrers Lu Olo
Pada tahun 1963 Lú Ólo memulai pendidikan dasar di Sekolah Dasar Santa Terezinha (Colegio Santa Terezinha) di Ossu tempat kelahirannya. Setelah lulus dari Santa Teresihnha College pada tahun 1969, Lú Ólo melanjutkan pendidikannya di Liceu Dili hingga tahun 1973. Di tahun yang sama Ia kembali lagi ke Santa Teresinha College dan menjadi guru di sekolah tersebut. Pada tahun 1974 Ia kembali ke Dili dengan tujuan untuk melanjutkan pendidikannya di perguruan tinggi. Namun karena situasi yang terjadi di Portugal serta kondisi sosial masyarakat yang Ia saksikan di Timor-Leste membuat Lú Ólo memilih bergabung dengan Fretelin yang sedang memperjuangkan kemerdekaan Timor-Leste. Lú Ólo meninggalkan pendidikannya dan bergabung dengan Fretelin pada usia 17 tahun. Pada saat itu Ia bergabung dengan tentara Força Armada da Libertação de Timor-Leste (Falintil).[3] Paska kemerdekaan Timor-Leste, pada tahun 2005, Lú Ólo kembali melanjutkan pendidikannya di Universidade Nasional Timor-Lorosa’e (UNTL) dan memperoleh gelar Strata Hukum pada tahun 2012.

B.        Alasan Lú Ólo Meninggalkan Pendidikan dan Bergabung dengan Fretilin

Alasan Lú Ólo memilih untuk mendedikasikan diri dalam perjuangan merebut kemerdekaan Timor-Leste, dikarenakan semasa Lú Ólo masih kecil, Ia sering menyaksikan tindakan kekerasan yang dilakukan oleh kolonialisme Portugal pada masa penjajahan tepatnya pada periode 1972-1973, hingga pada puncaknya ketika terjadi invasi Indonesia di Timor-Timur pada tahun 1975 dan pada massa kolonialisme Indonesia dimana terjadi banyak tindakan kekerasan yang dilakukan oleh Tentara Indonesia terhadap rakyat Timor-Timur ditambah lagi terjadinya revolusi bunga di Portugal yang mengakibatkan tumbangnya rezim Caetano, membuat Lú Ólo memutuskan bahwa hidup atau mati harus merdeka di atas tanah sendiri. Dalam wawancara yang dilakukan oleh team The Guardian di Istana Presiden Timor-Leste (Palacio do Governo de Timor-Leste) Lú Ólo menceritakan bahwa, sejak Invasi Indonesia ke wilayah Timor-Timur pada 1975, seluruh wilayah Timor-Timur mulai dari Timur hingga Barat hampir tidak sepi dengan perang yang mengakibatkan banyak koleganya yang tumbang dalam perang tersebut. “After Indonesian forces invaded the region in 1975, All of the Timorese territory from east to west was the stage for war, Many of my comrades perished in the war. Even with the people in the beginning of the war, I witnessed the killing of the population by bombardments. Through all of this, it’s what built my character as a Timorese citizen.[4] Seperti yang dijelaskan oleh Gabriel Defert bahwa dalam rentang waktu 1975 hingga 1981  atau 6 tahun pertama kependudukan Indonesia, sekitar 308.000 rakyat Timor-Leste yang kehilangan nyawa. Senada dengan Defert, Professor George Aditjondro juga mengatakan bahwa sekitar 300.000.00 penduduk Timor-Leste yang hilang pada tahun pertama setelah Invasi Indonesia.[5]
Dua minggu paska Revolusi Bunga  di Lisabon, Portugal, pada 13 Mei , Gubernur Almeida membentuk Komisi Timor untuk Penentuan Nasib Sendiri yang antara lain, mendorong terbentuknya serikat-serikat sipil.[6] Akibat dari maklumat 8 Mei 1974 tersebut maka muncullah 5 partai politik yang mejadi embrio partai politik di Timor-Leste. Kelima partai tersebut anatara lain; Partai UDT (União Democratica Timorense) terbentuk pada 11 Mei 1974, partai ASDT (Associção Social Demoratica Timorense) terbentuk pada 20 Mei 1974 dan bertransformasi menjadi partai Fretilin pada 11 September 1974, AITI (Associação Integração de Timor-Indonesia) yang kemudian bertransformasi menjadi APODETI (Associação Popular Democratica Timorense), dan partai yang muncul belakangan yaitu partai KOTA (Klibur Oan Timor Assua’in) yang dibentuk pada 27 Mei 1974, dan Partai Trabalhista (Partai Buruh) yang dibentuk akhir bulan september.[7]
Dari kelima partai poltik tersebut, salah satu partai yang menurut Lú Ólo dapat mengatasi persoalan yang terjadi di Timor-Timur, Partai yang berpihak kepada rakyat dan partai yang berjuang merebut kemerdekaan bagi rakyat Timor adalah partai Fretilin. Alasan itulah yang membuat Ia memilih bergabung dengan partai Fretilin dan meninggalkan pendidikannya.[8] Sebab, Fretilin adalah satu-satunya partai politik di Timor-Timur yang memperjuangkan hak untuk menentukan nasib sendiri bagi rakyat Timor-Timur (the right of the East-Timorese to independence).[9]
Selama massa perang, Lú Ólo menyaksikan banyak koleganya yang terbunuh, salah satu tokoh penting dari Fretilin yang terbunuh waktu itu adalah presiden pertama partai Fretilin, yaitu Nikolau Lobato, selain itu Konis Santana dan kawan-kawannya yang lain. Kematian koleganya itu tidak membuat Lú Ólo menyerah, bagi Lú Ólo hidup atau mati harus merebut kemerdekaan. Kepada team The Inside Story, Lú Ólo menceritakan bahwa; 'In many places I have been, I became emotional, I had tears in my eyes. This happens rarely. What's important is to understand what these tears signify. What they signify is the hope that exists in Fretilin. This is something to consider for the future: what Fretilin will do to serve those people who gave their trust and hope for Fretilin. Many leaders left their blood, their souls and their lives in the mountains. As did many soldiers and the people in the villages who died. There are many whose graves we've never found. Today we're here to honour them and, together with Fretilin, to move forward.[10]
Lú Ólo keluar dari tempat gerillya pada tahun 1999. Ini kali pertama Lú Ólo bertemu dengan keluarganya yang ditinggalkan selama 24 tahun. Selama massa perang, keluarga Lú Ólo sering mendapat tindakan intimidasi dan kekerasan dari Tentara Indonesia agar Lú Ólo bisa menyerahkan diri. Namun hal itu tidak membuat Lú Ólo menyerah justru menjadi tantangan bagi Lú Ólo untuk terus berjuang. João da Costa (sepupu Lú Ólo) menceritakan kepada Team The Inside Story bahwa; During the Indonesian invasion, because we were related to Lú Ólo, some of us were tortured. The ones left behind suffered as much as the ones taken to prison in Aatauro. We couldn't work in the rice fields far away or travel long distances because they thought we'd contact Lú Ólo.[11] Lebih lanjut Lú Ólo menjelaskan bahwa; In 1991 the Indonesian's discovered that I was still alive in the mountains so they sent my family to prison. They tried to force me to surrender but I didn't surrender. It made me stronger and more determined to resist the Indonesian vandals. From that moment I didn't care if I died. So I decided to die in the mountains, but fortunately I didn't die and most of my family are still alive.
Setelah tewasnya Nikolão Lobato dan beberapa tokoh utama dalam internal Fretilin, Xanana Gusmão tampil mengambil ahli kepemimpinan Fretilin pada 1981. Bersamaan dengan itu, strategi perjuangan lebih dititikberatkan pada perang politik dan diplomasi. Namun demikian, efektifitas aksi-aksi militer tetap diperhitungkan sebagai tanda tetap adanya perlawanan dari Fretilin. Maka dibentuklah suatu badan otonom yang diberi tugas melakukan perlawanan bersenjata, yaitu CRRM (Commando Revolucionario da Resistencia Maubere) yang posisinya masih dibawah komando atau kontrol Komite Sentral (CC) Fretilin dan membawahi secara khusus angkatan bersenjata Falintil (Forcas Armadas da Libertaçao Nacional de Timor-Leste). Setahun setelah konferensi partai Fretilin di Aitana pada 1987, strategi perjuangan Fretilin diubah menjadi perlawanan seluruh rakyat Timor-Timur tanpa memandang afiliasi partai politiknya dengan membentuk CNRM (Conselho Nasional Resistencia Maubere) sebagai organisasi yang memayungi seluruh kekuatan perlawanan rakyat Timor-Timur yang terdiri dari tiga front perjaungan yaitu; Front Diplomatik, Front Klandestine, dan Front Armada (Falintil). Front Diplomatik dipimpin oleh Jose Manuel Ramos Horta yang melakukan negosiasi tentang hak penentuan nasib sendiri bagi TimorTimur, Front Klandestine terdiri pelajar, pemuda, mahasiswa hingga pegawai negeri sipil anti-integrasi yang memobilisasi diri dalam organisasi perlawanan seperti Renetil, Impettu, Dewan Solidaritas Mahasiswa Timtim, Forsa Repetil Fitun, Sagrada Familia, Ojetil, dan lain sebainya. Kelopok inilah yang menjadi basis perjuangan Front Armada atau tentara Falintil,  dan yang terakhir front Armada Falintil merupakan kelompok bersenjata yang berjuang di hutan-hutan.[12]
Lú Ólo sendiri bergabung dalam Front Armada (Falintil) bentukan Fretilin[13] dan berperan penting di dalam front Klandestin. Dimana dia sebagai penyambung lidah antara kelompok anti-integrasi yang tergabung dalam front klandestine dengan para petinggi pejuang dalam Komite Sentral Fretilin dengan memberikan informasi yang diperoleh dari masyarakat anti-integrasi kepada pemimpin Fretilin dan Front Armada. Pada awal 1990-an ketika terjadi penangkapan terhadap beberapa figur politik seperti Rankadalak di tahun 1991, Xanana Gusmão di tahun 1992, dan Bukar di tahun 1993 serta kematian Konis Santana pada 1997 menimbulkan terjadinya perubahan di dalam internal Fretilin dan Falintil. Lú Ólo yang pada waktu itu belum tertangkap dengan segera mengambil inisiyatif untuk mengambil posisi sentral dalam internal Fretilin yaitu menjadi pemimpin dalam partai Fretilin.[14]
Peralihan kekuasaan pemerintahan Republik Indonesia dari Presiden Soeharto ke tangan Habibie pada bulan Mei 1998 memberikan harapan bagi para pejuang kemerdekaan Timor-Leste. Pada tanggal 27 Januari 1999, Presiden Republik Indonesia mengumumkan dua opsi bagi rakyat Timor-Timur (sebutan Timor-Leste pada massa integrasi) yang pada dassarnya menyerahkan keputusan akhir massa depan kawasan tersebut kepada masyarakat Timor-Timur sendiri. Dalam hal ini, masyarakat Timor-Timur dapat menentukan keputusannya melalui proses jajak pendapat untuk setuju atau menolak tawaran status Daerah Otonomi Khusus (DOK) yang diberikan. Jika mayoritas penduduk memilih status Otonomi Khusus, Timor-Timur akan tetap menjadi bagian integral dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sebaliknya, jika penawaran Otonomi Khusus ditolak, maka Timor-Timur akan berpisah dari Indonesia dan menentukan nasib sendiri.[15] Dari hasil jajak pendapat yang dilakukan pada tanggal 30 Agustus 1999, sebanyak 78.5% suara menolak tawaran DOK.[16] Pada tahun 20 Mei 2002, Timor-Leste diakui secara Internasional sebagai negara yang merdeka dan berdaulat.

C.        Latar Belakang Politik dan Militer.

Perjalanan karir politik Lú Ólo dimulai ketika Ia memutuskan untuk bergabung dengan tentara gerilyawan yang memperjuangkan kemerdekaan Timor-Leste. Pada tahun 1974 Lú Ólo bergabung dengan partai ASDT yang dibentuk pada 20 Mei 1974 sebagai simpatisan dan menjadi anggota militansi partai Fretilin setelah partai ASDT bertransformasi menjadi Partai Fretelin pada 11 September 1974. Alasan Lú Ólo bergabung dengan partai ASDT dikarenakan Ia tertarik dengan platform partai yang ingin mendirikan negara Timor-Leste yang berdaulat guna mewujudkan kedaulatan rakyat bagi rakyat Timor-Leste. Manifesto Partai Fretilin menyerukan penolakan terhadap kolonialisme partisipasi segera orang Timor dalam pemerintahan lokal, dan diakhirinya diskriminasasi rasial, perjuangan melawan korupsi, dan hubungan baik dengan negara-negara tetangga.[17] Ketika terjadi invasi Indonesia pada tahun 1975, Lú Ólo bergabung dengan tentara pejuang kemerdekaan yang dipimpin oleh Lino Osaka, di Ossu. Sekaligus menjadi pemimpin di Comite Central Fretilin.
Kendati karir politik Lú Ólo tidak se-cemerlang karir politik Xanana Gusmão, Ramos Horta maupun Mari Alkatiri. Namun demikian, Lú Ólo juga merupakan salah satu politisi karismatik dan dihormati di Timor-Leste. Hal ini dikarenakan Lú Ólo adalah seorang mantan pejuang perlawanan yang menghabiskan seluruh 24 tahun di pegunungan selama masa invasi Indoenesia. Paska 1999 Lú Ólo merupakan pemimpin paling senior Fretilin di dalam negeri. Selain itu, Ketika terjadi kesulitan dalam perjuangan yang disebabkan oleh lemahnya basis perlawanan akibat penangakapan beberapa figur politik dan tewasnya beberapa pemimpin gerilyawan, Lú Ólo memgambil ahli dalam perjuangan sebagai komisaris politik baik di internal Fretilin maupun dalam Front Armada. Hal inilah yang kemudian membuat Lú Ólo dihormati di Timor-Leste.
Selama massa perang, Lú Ólo pernah menjabat di beberapa posisi dalam Fretilin, antara lain; pada tahun 1976 Lú Ólo menjabat sebagai Wakil Sekretaris região III[18] (wilayah perlawanan bagian Timur pegunungan Matebian) yang dipimpin oleh  Falur Rate Laek alias Raul. Pada tahun 1979-1978, Ia menjabat sebagai Komisaris Politik Ponta Leste. Tahun 1993, ketika Mau Huno dan Xanana ditangkap, Lú Ólo mengambil posisi sebagai Wakil Sekretaris Komisi Kebijakan Fretilin (Comissão  Directiva da Fretilin) dan pada tahun 1997 ketika Konis Santana meninggal, Lú Ólo naik ke posisi sekretaris CDF yang dipimpin oleh Konis Santana sebelumnya.[19] Pada periode 1998-1999 Lú Ólo menjabat sebagai presiden Fretilin, setelah Konferensi Fretilin yang diselenggarakan di Sidney-Australia. Pada periode 2001- 2005 Ia terpilih kembali menjadi presiden Fretilin untuk periode 5  (Lima Tahun), dan terpilih kembali pada periode 2006-2011.[20] Pada periode September 2001 – Mei 2002 Lú Ólo terpilih sebagai Presiden Majelis Konstituante lewat kemenangan partai Fretilin dalam pemilihan umum anggota Majelis Konstituante[21] yang dilakukan pada 30 Agustus 2001 dengan perolehan 55 kursi dari 88 kursi Parlemen. Majelis Konstituante bertugas untuk mempersiapakan Undang-Undang Dasar bagi Timor-Timur yang merdeka dan demokrasi.[22] Setelah kemerdekaan Timor-Leste, Majelis Konstituante bertransformasi menjadi Parlemen Nasional Timor-Leste, Lú Ólo diangkat menjadi presiden Parlmen Nasional Timor-Leste mulai dari tahun 2002 hingga tanggal 31 Juli 2007.[23] Pada tahun 2007 tampil sebagai kandidat dari partai Fretilin. Ia mendeklarasikan pencalonan setelah menang voting yang dilakukan oleh partai Fretelin. Isu yang dibawa Lú Ólo pada waktu itu adalah penyelesaian konflik yang terjadi dalam kubu tentara Timor-Leste (FDTL) dan kepolisian Timor-Leste (PNTL).

D.           Faktor Kegagalan Lú Ólo dalam Pemilu 2007 dan 2012

Seperti dijelaskan sebelumnya, bahwa paska didemisioner dari Presiden Parlemen Nasional Timor-Leste, Lú Ólo kembali bermain di dunia politik Timor-Leste dengan mencalonkan diri dalam ajang perebutan kursi kepresidenan Timor-Leste pada tahun 2007 dan 2012. Keinginan Lú Ólo ingin menjadi pemimpin di negara Timor-Leste bukan tanpa alasan. Lú Ólo mengetahui, paska Timor-Leste melepaskan diri dari NKRI, belum ada perubahan signifikan di kehidupan rakyat Timor-Leste. Kondisi seperti kurangnya lapangan pekerjaan, kurangnya akses pendidikan, kesehatan, air bersih masih menjadi persoalan bagi rakyat Timor-Leste. Dampak dari semua itu, sering terjadi tindakan kekerasan atau kerusuhan antar pemuda maupun pelajar. Hingga pada puncaknya terjadinya krisis 2008 yang menewaskan mayor Alfredo Reinaldo Alves. Kurangnya lapangan pekerjaan juga membuat banyak pemuda yang mencari pekerjaan di luar negeri, seperi di Korea Selatan, Inggris dan lain-lain. Namun dikarenakan beberapa faktor yang menjadi penghambat, keinginan Lú Ólo untuk menjadi pemimpin di Timor-Leste tidak menghasilkan kesuksesan.
Terdapat beberapa hal yang menjadi faktor kegagalan Lú Ólo dalam pemilihan presiden Timor-Leste tahun 2007 dan 2012. Pada pemilihan presiden tahun 2007, Lú Ólo ikut mencalonkan diri untuk merebut kursi kepresidenan di Timor-Leste yang membuat Lú Ólo bertarung dengan 8 (delapan) kandidat pada pemilihan presiden putaran pertama. Dari kedelapan kandidat tersebut, kandidat yang paling diunggulkan adalah José Manuel Ramos Horta. Hal ini dikarenakan tokoh penerima hadiah Nobel Perdamaian tahun 1999 dan mantan pemimpin kelompok Maputo serta mantan Menteri Luar Negeri tersebut mendapatkan dukungan dari tokoh karismatik dan mantan geryliawan Xanana Gusmão dengan partainya. Seperti diketahui, Xanana Gusmão merupakan mantan gerilyawan dan pemimpin CNRT yang hingga saat ini masih memiliki pengaruh besar di panggung politik Timor Leste. 
Dukungan Xanana Gusmão dengan partainya berhasil mengantarkan Ramos Horta lolos ke pemilihan putaran kedua, dimana pada putaran pertama yang dilaksanakan pada 9 April 2007, Ramos Horta berhasil meraih suara sebanyak 21.81%, dibawa kandidat partai Fretilin, Fransisco Guterres Lú Ólo yang memperoleh suara sebanyak 27.89% suara. Oleh karena, tidak ada kandidat yang meraih suara mayoritas 50%+1 suara dalam pemilihan putaran pertama, maka akan digelar pemilihan putaran kedua yang akan diikuti oleh dua kandidat peraih suara terbanyak sesuai dengan Undang-Undang yang berlaku.[24]
Pada pemilihan putaran kedua yang diselenggarakan pada 9 Mei 2007, Ramos Horta kembali mendapatkan dukungan dari empat partai sekaligus.[25] Keempat partai tersebut antara lain; Partai PD yang dipimpin oleh Fernando de Araujo La Sama yang memperoleh suara 19.18% pada pemilu putaran pertama, Fransisco Xavier do Amaral (ASDT) dengan perolehan suara 14.39%, Lucia Lobato (PSD) dengan perolehan suara sebanyak 8.86%, serta João Carascalão (UDT) dan Avelino Coelo (PST), yang masing-masing memperoleh suara sebanyak 1.72% dan 2.06%. Sementara kandidat dari partai Fretilin hanya didukung oleh Manuel Tilman yang hanya memperoleh 4% suara.[26]
Dukungan dari ke empat kandidat yang gagal melanjutkan ke pemilihan putaran kedua ditambah lagi dengan dukungan dari Xanana Gusmão, akhirnya mengantarkan Ramos Horta menjadi presiden Timor-Leste dengan perolehan suara sebanyak 69.18 % suara, mengalahkan Fransisco Guterres Lú Ólo yang hanya memperoleh suara sebanyak 30.82% suara.[27] Dengan demikian, kekalahan Fransisco Guterres Lú Ólo dari Ramos Horta pada pemilu presiden 2007, dikarenakan kurangnya strategi dan taktik yang digunakan oleh partai Fretilin dalam pemilu tersebut. Misalnya tidak membangun koalisi atau mencari dukungan dari partai lain seperti yang dilakukan oleh Ramos Horta. Bahkan mantan presiden Timor-Timur pada 1975 yaitu Fransisco Xavier do Amaral pun tidak memberikan dukungan terhadap kandidat Lú Ólo, melainkan memberikan dukungannya kepada Ramos Horta. Padahal Fransisco Xavier merupakan tokoh pendiri partai Fretilin yang bertransformasi dari partai ASDT pada tahun 1974.
Faktor lain yang menjadi penyebab kekalahan Lú Ólo dalam pemilu 2007 adalah hilangnya kepercayaan dari rakyat Timor-Leste, baik kalangan intelektual maupun pihak gereja terhadap Fretilin yang dianggap gagal dalam membangun pemerintahan selama 5 tahun periode 2002-2007. Bagi kalangan intelektual dan pihak gereja, Fretilin selama 5 tahun memimpin pemerintahan, tidak ada perubahan yang singifikan. Kehilangan kepercayaan ini juga diperkuat oleh tersingkirnya mantan Sekretaris Jenderal partai Fretilin, Mari Alkatiri dari jabatan Perdana Menteri menjelang pemilihan presiden, akibat gagal menangani krisis politik yang terjadi pada waktu itu.[28]
Selain itu, faktor lain yang menjadi penyebab gagalnya Lú Ólo dalam pemilu prsiden 2007 dikarekana adanya perpecahan di internal partai Fretilin menjelang pemilu. Perpecahan ini berawal dari tertutupnya (secret ballot bukan show hand/terbuka) mekanisme votting atau pemilihan sekjend partai baru yang digunakan dalam konggres partai Fretilin yang dilaksanakan pada bulan Mei 2006 yang membuat sekjend Mari Alkatiri terpilih kembali. Akibatnya banyak kandidat yang mengundurkan diri dari pencalonan Sekjen, bahkan memboikot pemilihan. Kelompok pemboikot ini dinamakan Frente Mudansa (Reformis).[29] Selanjutnya beberapa tokoh yang tergabung dalam kelompok ini keluar dari partai Fretilin dan membentuk partai baru yang dinamakan Fretelin Mudansa yang dipimpin oleh Jusé Luis Guterres.[30]
Walaupun José Luis Guterres dengan partainya tidak mengikuti pemilihan presiden tahun 2007, namum nampaknya anggota partai tersebut memberikan dukungan terhadap Ramos Horta. Hal ini dapat dilihat dari bukti bahwa paska Xanana Gusmão ditetapkan menjadi Perdana Menteri, Xanana langsung menunjuk José Luis Guterres menjadi Wakil Perdana Menteri.[31]
Pada pemilihan presiden Timor-Leste tahun 2012, Lú Ólo kembali dicalonkan oleh partai Fretilin. Alasan yang melatarbelakangi Lú Ólo kembali bermain dalam ajang perebutan kursi kepresiden Timor-Leste ini masih sama, yaitu, Lú Ólo menganggap bahwa kehidupan rakyat masih jauh dari kata sejahtera. Oleh karena itu, Lú Ólo ingin memperbaiki kehidupan rakyat dan membangun negara mulai dari akar rumput. Ia ingin membangun negara mulai dari aspek pendidikan, aspek kesehatan, aspek pertanian dan lain sebagainya.
Pada putaran pertama pemilihan presiden Timor-Leste tahun 2012, Ló Ólo berhasil mengalahkan lawan-lawannya dengan meraih suara terbanyak yaitu 28.76% suara dari jumlah suara sah. Oleh karena tidak ada kandidat yang meraih suara mayoritas lebih dari 50%+1 dari jumlah suara sah. Maka Lú Ólo bersaing merebut kursi kepresiden Timor-Leste melalui pemilihan putara kedua dengan kandidat Mayor Jenderal Taur Matan Ruak yang juga memperoleh suara terbanyak kedua pada pemilihan putaran pertama tersebut dengan perolehan suara sebanyak 27.51% suara dari jumla suara sah.[32]
Pada pemilihan putaran kedua yang diselenggarakan pada tanggal 16 April 2012. L’u Ólo kalah telak dari Mayor Jenderal Taur Matan Ruak memperoleh suara sebanyak 61.23%, dibandingkan dengan Lú Ólo yang hanya memperoleh 38.77% suara.[33] Hal ini dikarenakan Taur Matan Ruak mendapatkan dukungan penuh dari Xanana Gusmão dengan partai CNRT. Seperti diketahui, Xanana merupakan tokoh karismatik yang pengaruh politiknya masih kuat di Timor-Leste. Kemenangan Ramos Horta dalam pemilihan presidien Timor-Leste 2007 dikarenakan adanya dukungan dari Xanana Gusmão. Bahkan jauh sebelum pemilihan putaran kedua dimulai, tokoh-tokoh politik sudah memprediksi akan kemenangan Taur Matan Ruak. Florenci Mario Viera, mengatakan, jika lolos ke pemilihan putaran kedua adalah Lú Ólo dan Taur Matan Ruak, maka Taur akan menang mutlak, karena mendapatkan dukungan penuh dari PM Timor-Leste dan mantan presiden, Xanana Gusmão.[34] Dukungan partai CNRT terhadap Taur Matan Ruak diumumkan langsung oleh Sekretaris Jenderal partai CNRT, Deonisio Babo dan Ketua Komisi Politik Nasional Partai CNRT, Fransisco Kalbuady dalam sebuah konferensi pers di markas besar CNRT di Bairo Dos Grilos ,Dili pada 11-12 Januari 2012.[35]




[1] . Lili Vanna. 2001. Biografi Lu Olo Pemimpin Partai Fretelin. Lian Maubere Edisi XXXIII. Diakses dari: https://wn.com/biografi_lu_olo_pemimpin_partai_fretilin
[2] . Kata Mari Alkatiri kepada team abc di markas besar Fretilin pada saat perayaan ulang tahun Lu Olo. Dikases dari: http://www.abc.net.au/etimor/epis2.htm
[4] . Helen Davidson. 2017. Timor-Leste president Francisco 'Lu’Olo' Guterres: a product of war now pushing for peace. Diakses dari: https://www.theguardian.com/world/2017/jun/08/timor-leste-president-francisco-luolo-guterres-a-product-of-war-now-pushing-for-peace
[5] . A. Barbedo de Magalhães. 2004. East Timor: The Struggle For Freedom. Hal 2. Dikutip dari: http://www.fd.uc.pt/igc/pdf/papers/EastTimor_thestruggleforfreedom_March2004.pdf
[6] . Chega.2010. Laporan Komisi Penerimaan Kebenaran dan Rekonsiliasi Timor-Leste (CAVR). Volume I. Hal 201
[7] . Tempo, Majalah Berita Mingguan. 1975. Duduk Perkara Kekacauan. Dikutip dari Dokumen Pra- Integrasi Timor-Timur 1975 yang dipublikasi oleh Biro Informasi dan Data. Hal 35
[8].Pernyataan ini merupakan pernyataan Lu OLO yang disampaikan kepada team journalist timoroaman.com dalam wawancara yang dilakukan pada tanggal 20 Mei 2013. Dalam wawancara tersebut menggunakan bahasa resmi Timor-Leste, Bahasa Tetum. Sumber Tulisan www.timoroman.com atau http://exilados-tl.blogspot.co.id/2013/05/dedikasaun-lu-olo-iha-luta.html
[9] . Estevão Cabral. 2003. Fretelin and The Strunggle For Independence In East Timor 1974-2002. An examination of the constraints and opportunities for a non-state nationalist movement in the late twentieth century. Lancaster University. Hal 20
[11] . Pernyataan#d ini dikutip dari video dukomenter Fransisco Guterres Lu Olo yang diproduksi oleh Australian Movie Ltd, dengan judul East Timor Birth of Nation, Lu Olo Story yang dikases dari: https://www.youtube.com/watch?v=vMBoBRDB8Ao
[12]. Zacky Anwar Makarim. Dkk. 2003. Hari-Hari Terakhir Timor-Timur, Sebuah Kesaksia..Enka Parahiyangan. Jakarta. Hal 79-84
[13]. Op. Cit. Estevão Cabral. 2003.  Hal 22
[14]. Op. Cit. Estevão Cabral. 2003. Hal 440
[15]. Zacky Anwar Makarim. Dkk. 2003. Hari-Hari Terakhir Timor-Timur, Sebuah Kesaksia..Enka Parahiyangan. Jakarta. Hal 28
[16]. Ibid. Zacky Anwar. M. Hal 42
[17]. Geoffrey C. Gunn.2005. 500 Tahun Timor- Lorosa’e. Sa’he Intitute of Liberation. Dili. Hal 411.
[18] . Selama perang, organisasi bersenjata FALINTIL membagi Timor-Timur kedalam empat região (wilayah) perjuangan. Região I dipimpin oleh Titu da Costa alias Lere Anan Timor. Kawasan perjuangan mereka meliputi seluruh Kabupaten Lospalos dan seluruh wilayah timur Kabutpaten Baukau. Região II dipimpin oleh Sabica. Wilayah perjuangan meliputi Kabupaten Viqueque, dan wilayah barat Kabupaten Baukau, wilayah selatan dan timur Kabupaten Manatuto. Região III dipimpin oleh Falur Rate Laek alias Raul. Wilayah perjuangan meliputi seluruh Kabupaten Dili, Aileu, Same, Manatuto Utara, Ainaro Timur, Ermera Timur, dan Liquica Timur. Região IV dipimpin oleh Ular alias Asiuk. Wilayah perjuangan meliputi Kabupaten Bobonaro, Coba-Lima, Ermera Barat, Liquica Barat, dan Ainaro Barat. Lihat; Zacky Anwar.dkk. Hari-Hari Terakhir Timor-Timur; sebuah kesaksian. Hal. 80.
[19]. Api-Uku. 2012. Biografia Comandante Nino Konis Santana. Diakses dari: ita-nian.blogs.sapo.tl
[20]. Anonim. 2017. Short Biography, H.E. Fransisco Guterres Lu Olo. Diakses dari: ccln-media.squarespace.com/s/Bio-Lu-Olo-020417.pdf
[21]. Boletim24. 2017.Perfil-Fransisco Guterres Lu Olo, Eis Presidenti Parlamento Nacional Povo Hili Sai Presindenti RDTL. Diakses dari: http://www.boletim24.com/tet/2017/03/22/perfil-francisco-guterres-lu-olo-eis-prezidenti-parlamento-nacional-povu-hili-sai-prezidenti-rdtl/
[22]. Kristio Wahyono. 2010. Sepuluh Tahun Tragedi TimTim: Timor Target. Hal 87-89
[23]. Tulisan ini dikutip dari artikel yang ditulis oleh Team Sukses Fransisco Guterres Lu Olo tentang Curriculum Vitae Fransisco Guterres Lu Olo yang dimuat dalam artikel Fretelin.Media pada 25 Juli 2011. Sumber dari tulisan ini masih menggunakan domain blogspot, namun dijamin kepercayaanya sebab dalam blog tersebut dicantumkan kontak person dari Anggota Parlemen (Deputado) Jose Terxeira, (+670 728 7080) serta email Media FretIlin (fretilin.media@gmail.com). Sumber tulisan: http://fretilinmedia.blogspot.co.id/2011/07/curriculum-vitae-francisco-guterres-lu.html
[24] . Op.Cit. Kristio Wahyono. Hal 250
[25] .Ibid. Kristio Wahyono. Hal 257
[26] . CNE. 2007. Eleisaun Prezidenter 2007 Republica Democratika de Timor-leste. ACTA Final Apuramentu Nacional. Hal 1
[27] . EU Election Observation Mission (EU EOM).2007. Final Report, Timor-Leste  Presidential & Parliamentary Election. Hal 7
[28] . Op. Cit. Kritio Wahyono. Hal 258-259
[29] . Ibid. Hal 264
[30] . Fundasaun Mahein. 2011. Potensi Ancaman Keamanan Menjelag Pemilu 2012. Mahein Nia Lian. No.19,28 Abril 211. Hal 4
[31] . Op.Cit. Kristio Wahyono. Hal 266
[32] . STAE (Sectretario Têcnico da Adminstração Eleitoral). 2012. Timor-Leste Eleições Gerais de 2012.STAE. Dili. Timor-Leste. Hal 5. Diakses dari: https://issuu.com/publicacoes.stae/docs/timor-leste__elei__es_gerais_de_2012
[33]. Ibid. STAE. Hal 53
[34] . Antaranews.com. 2012. Lú Ólo Unggul Sementara Dalam Pilpres Timor-Leste. Diakses dari: http://www.antaranews.com/print/301932/lu-olo-unggul-sementara-dalam-pilpres-timor-leste
[35] . Ita Lismawati F.Malau. 2012. Partai CNRT Dukung Capres Taur Matan Ruak. Diakses dari: http://www.viva.co.id/berita/dunia/291186-partai-xanana-gusmao-dukung-capres-taur-matan
Share:

Jumat, 02 Juni 2017

BIOGRAFI DAN PEMIKIRAN ALI SYARI'ATI - BEDAH TOKOH


1. Sekilas Tentang Biografi Ali Syariati
            Ali Syariati merupakan anak pertama dari pasangan Muhammad Taqi dan Zahra, Ia dilahirkan pada tanggal 24 November 1933 di sebuah desa kecil di Kahak, sekitar 70 kilometer dari Sabzevar, Iran bagian Tenggara. Keluarga Zahra tinggal di Kahak dan Ali dilahirkan dirumah kakeknya dari pihak Ibu. Dia anak pertama sekaligus anak laki-laki satu-satunya didalam keluarga, dengan tiga orang saudaranya, Tehereh, Tayebeh, dan Batul (Afsanah). Ali Syariati hidup dalam masyarakat urban kelas menengah kebawah.[i]
            Ali Syariati kecil hidup dimasa perang besar dunia II sedang berkecamuk, tidak terkecuali di Iran. Pada musim semi tahun 1941, sebulan setelah sekutu menginvasi Iran, Ali memasuki tahun pertama di sekolah dasar.[ii] Setelah selesai menyelesaikan pendidikan sekolah dasar di Ibnu Yamin, pada bulan September 1947, Ali memasuki sekolah menengah Firdausi. Ali menyelesaikan tingkat kesembilannya di Firdausi. Meskipun demikian, sebagai ganti meneruskan sekolahnya ke tingkat diploma, dia mengambil jalan lain. Pada tahun 1950, atas permintaan ayahnya, Muhammad Taqi, dia mengikuti ujian masuk di Institut Keguruan (Danesyara-ye Moqadimati) yang ketat.[iii]
            Keterlibatan aktif Ali dalam politik dimula dari periode ini. Dia sudah mengenal politik dan wacana kenegaraan walaupun hanya terbatas pada ranah-ranah diskusi. Ali lulus dari Institut Keguruan pada tahun 1952. Semenjak musim gugur pada tahun yang sama, dia bekerja di Kementrian Pendidikan dan dikirim ke sekolah dasar Ketabpur di Ahmadabad. Selain menulis, Ali Syari’ati mulai pula menyampaikan berbagai ceramah dan kuliah di Markaz Nasyr al-Haqa’iq al-Islamiyyah di Masyhad yang didirikan oleh ayahnya. Markaz Nasyir al-Haqaiq al-Islamiyyah di Masyhad mempunyai andil besar dalam berbagai aktivitas yang terjadi di samping dekade tiga puluhan, dan berpengaruh terhadap kehidupan para praktisi dan kaum terpelajar. Lembaga ini memainkan peran yang sangat besar dalam menyebarkan pemikiran-pemikiran Ali Syari’ati, dan sebaliknya.
Ketika berumur 23 tahun, Ali Syari’ati masuk Fakultas Sastra Universitas Masyhad. Di sinilah Syari’ati untuk pertama kali masuk penjara selama 8 bulan sebagai akibat gerakan oposisinya melawan rezim, di bawah pimpinan Gerakan Perlawanan Nasional (NRM) Cabang Masyhad. Setelah lulus dari Universitas Masyhad ia melanjutkan pendidikan tingginya ke Universitas Sorbonne, Perancis atas beasiswa pemerintah Iran. Di Prancis sendiri, Ali Syariati menemukan lebih banyak sumber ilmu pengetahuan yang tidak ada di Iran pada waktu itu.
Keberadaan Syari’ati di Paris bersamaan pula dengan masa-masa munculnya kebangkitan baru dalam mengembangkan sayap-sayap kemajuan gerakan keagamaan di dalam negeri Iran. Tidak memakan waktu lama, muncullah gelombang gerakan kebebasan yang melanda Iran. Dan penguasapun segera melakukan penangkapan-penangkapan terhadap tokoh-­tokoh gerakan kebebasan negeri ini. Sebagian di antara mereka ditembak mati, dan sebagian lagi dijebloskan ke dalam penjara dan disiksa secara keji, yang ditujukan pula untuk menghancurkan gerakan nasionalis dan keagamaan, khususnya para tokoh gerakan kebebasan Iran.
Dalam gerakan inilah, Ali Syari’ati termasuk dan melibatkan diri, tanpa henti dia menulis dan memproklamirkan apa yang diyakininya sebagai suatu yang hak serta menganalisa gerakan Islamiyah yang telah terbentuk di bawah pimpinan Ayatullah Khomeini. Sementara itu, sebagian besar penerbitan berbahasa Persia di luar negeri selalu saja bernada non agama, bahkan anti agama, sekalipun gerakan di dalam negeri Iran secara fundamental adalah Islamiyah dan seluruh asasnya adalah ideologi keagamaan progresif. Para intelektual Iran di luar negeri cenderung mengabaikan kenyataan sosial dalam negeri Iran serta hakikat perjuangan rakyatnya, karena maksud buruk, persekongkolan diam-diam ataupun kebodohan mereka.
Setelah memperoleh gelar doktor, pada 1964 ia kembali ke Iran. Dalam perjalanan pulang ke Iran, ia ditangkap di perbatasan lalu dijebloskan ke dalam penjara dengan tuduhan bahwa ketika sedang kuliah di Prancis ia telah terlibat dalam berbagai aktivitas politik. Setelah dibebaskan pada tahun 1965 ia mulai mengajar di Masyhad University. Sebagai seorang pakar sosiologi muslim, menurut prinsip-prinsip Islam, menjelaskan dan mendiskusikan prinsip-prinsip itu bersama para mahasiswanya. Dalam waktu singkat ia meraih popularitas di kalangan mahasiswa dan berbagai golongan sosial yang berbeda di Iran. Inilah yang dijadikan alasan oleh rezim penguasa untuk menghentikan kuliah-kuliahnya di Universitas.
Pemecatan Syari’ati dari universitas Masyhad tidak menghentikan kegiatan-kegiatannya. Bahkan, kejadian itu memberinya kesempatan untuk memasuki panggung baru sebagai pemikir dan aktivis revolusioner. Ia kemudian pindah ke Teheran dan menjadi anggota dewan pengurus Husayniyah Irsyad. Dengan menjadikan Husayniyah Irsyad sebagai lembaga pengetahuan, penelitian dan dakwah Islam yang besar, Syari’ati berusaha mempersiapkan generasi muda Iran untuk pergolakan revolusioner. Ia mengajari mereka, bahwa Islam bukan hanya susunan kepercayaan yang religius, melainkan pula sebuah ideologi revolusioner yang lain bisa menentang segala bentuk pelanggaran dan gangguan Barat terhadap Iran.
Tahun 1969 adalah masa-masanya yang paling produktif. Salah satu kuliahya di bulan Oktober 1968, diterbitkan dengan judul Ravisy-I Syinakh-I (Approaches to the understanding of Islam, Cara Memahami Islam). Pada tahun 1969 ini juga, otobiografinya berjudul Kavir (Padang Garam) diterbitkan. Sejarah telah mencatat bahwa perjalanan hidup Ali Syari’ati ditumpahkan dalam perjuangan menegakkan keadilan dan nilai-nilai kemanusiaan serta melawan segala bentuk eksploitasi dan penindasan dengan menandaskan Islam sebagai basis ideologinya. Perjuangan itu tidak hanya diwujudkan dalam dataran intelektual, namun juga melalui perjuangan praksis. Ali Syari’ati hidup saat Iran digoncang oleh persoalan yang sangat rumit, Iran di bawah pemerintahan Syah Pahlavi telah menggerogoti budaya religius Islam yang mestinya punya tanggung jawab moral terhadap kondisi sosial, ekonomi, politik dan kultural masyarakat.
Ketika Syah Iran hendak mengadakan pesta megah 2500 tahun kerajaan Persia, dalam rangka tahun baru Iran (Naruz), Ali Syari’ati bercerita tentang 5000 tahun penindasan di Iran. Pada 13 November 1971, ia melancarkan pidatonya yang terkenal “Tanggung Jawab Seorang Syi’ah”, yang berisi agitasi militan dan revolusioner untuk mengajak mahasiswa-mahasiswanya meruntuhkan rezim Syah. Ali Syari’ati juga secara terang-terangan mengkritik ulama resmi yang disebutnya sebagai “Borjuasi Kecil” bahkan lebih pedas ia mencemooh mereka “sebagai anjing dan keledai” menurutnya, banyak ulama yang berpandangan sangat picik yang hanya bisa mengulang-ulang doktrin Fiqh secara bodoh. Karena kekritisannya, Syari’ati akhirnya dianggap pemerintah Syah sebagai “srigala ganas” yang harus disingkirkan dan dimusnahkan. Ia pun dianggap sebagai seorang “marxisme” dan kemudian dipenjarakan pada tahun 1973.
Karena desakan masyarakat Iran dan juga protes dari dunia internasional, pada 20 Maret 1975, terpaksa Syari’ati dibebaskan. Walaupun dibebaskan, Ali Syari’ati tetap diawasi dengan ketat. Menyadari dirinya diawasi dan dibatasi serta tidak bisa berkembang di Iran, Syari’ati pergi ke London, Inggris. Tetapi pada 19 Juni 1977, Syari’ati ditemukan tewas di South Hamton, Inggris. Pemerintah Iran menyatakan Syari’ati tewas akibat penyakit jantung, tetapi banyak yang percaya bahwa dia dibunuh oleh polisi rahasia (SAVAK) Iran.
Syari’ati lalu dikuburkan di Damaskus, Suriah, bersebelahan dengan makam Zainab, cucu Nabi dan Saudara perempuan Imam ketiga, Husain bin Ali, pada 27 Juni 1977. Upacara pemakamannya dipimpin oleh Musa al-Sadr pemimpin Syi’ah Lebanon. Kematiannya menjadi mitos “Islam militan”, popularitasnya memuncak selama berlangsungnya revolusi Iran, Februari 1979. Saat itu, fotonya mendominasi jalan-jalan di Teheran, berdampingan dengan Ayatullah Khomeini.[iv]
2. Revolusi Iran dan Latar Belakangnya
            Pada akhir 1920-an, Reza Syah, seorang perwira militer, merebut kekuasaan dan mendirikan Dinasti Pahlevi. Terimbas oleh langkah rekan sezamannya di Turki, Mustafa Kemal (Attaturk) yang memusatkan perhatiannya pada modernisasi dan pemerintahan terpusat yang kuat serta mengandalkan angkatan bersenjata dan birokrasi modern. Berbeda dengan Attaturk, Syah tidak menghapuskan lembaga-lembaga keagamaan, tetapi hanya membatasi dan mengontrol mereka.
Sejak itu Iran mengalami proses pembentukan negara bangsa yang serupa dengan proses yang berlangsung di Turki dan sejumlah negara lainnya. Negara menjadi motor perkembangan ekonomi dan perkembangan kebudayaan model Barat. Namun berbeda dengan Turki, golongan menengah menjadi kelas penopang utama bagi Rezim Pahlevi. Selain itu, Syah juga mengembangkan angkatan bersenjata baru yang lebih kuat. Banyak ulama yang mendukung pengambilalihan kekuasaan oleh Reza Syah guna memulihkan monarki yang kuat untuk meredam pengaruh asing.
Berakhirnya Perang Dunia II, Inggris dan Rusia sekali lagi mencampuri urusan pemerintah Iran demi kepentingannya. Mereka memaksakan pergantian Syah dan mengangkat putranya yang belum dewasa, Muhammad Reza Pahlevi tahun 1941 sebagai boneka penguasa di Iran. Antara tahun 1941 sampai 1953, Iran menjalani periode pergolakan yang terbuka antara sejumlah protektor asing dan sejumlah partai politik internal. Amerika Serikat lambat laun menggeser pengaruh Inggris dan Rusia, akhirnya menjadi pelindung utama Iran pasca perang. Salah satu alasan utama dari campur tangan Amerika Serikat adalagh kekhawatirannya bahwa Iran akan memperkuat pengaruh Uni Soviet dan komunisme di Iran. Penyelesaian tersebut mengembalikan rezim yang otoriter dan terpusat.
Menurut Hossien Bashiriyeh, ada lima landasan kekuasaan yang dibangun Syah yang kemudian memicu timbulnya revolusi dan menyebabkan jatuhnya Syah. Pertama, kontrol negara yang sangat besar atas sumber-sumber keuangan, khususnya minyak; Kedua, progam stabilisasi, pertumbuhan ekonomi dan intervensi ekonomi rezim kedalam sistem ekonomi; Ketiga, mobilisasi massa dan penciptaan suatu keseimbangan antara kelas-kelas melalui kontrol dan intervensi rezim; Keempat, pembentukan hubungan-hubungan patron client dengan kaum borjuis kelas atas; serta Kelima, diperluasnya peranan kekuatan penekan (khususnya SAVAK), dan ketergantungan pada Barat terutama dukungan politik militer AS.[v]
Pada akhir dekade 70-an, dunia dikejutkan degan peristiwa revolusi Islam yang terjadi di Iran. Revolusi yang oleh beberapa pengamat Barat, seperti John L. Esposito disebut sebagai “Salah satu pemberontakan rakyat terbesar dalam sejarah umat manusia” berhasil menggulingkan rezim otoriter pimpinan Reza Syah Pahlevi. Revolusi ini merupakan hasil suatu proses akumulasi ketidakpuasan rakyat Iran terhadap kebijakan Syah, baik di bidang ekonomi, politik, agama maupun sosial budaya. Keberhasilan revolusi itu banyak ditentukan oleh dua faktor yang saling berkaitan satu sama lain. Di satu pihak, terciptanya persatuan di antara kelompok-kelompok penentang Syah, baik yang berpaham Nasionalisme (Front Nasional), Islamisme (organisasi-organisasi yang dibentuk oleh para mullah) maupun yang berpaham Marxisme (Mujahiddin dan Fayden Khalq). Di lain pihak, muncul kelompok ulama seperti Ayathullah Murthada Muthahari, Ayatullah Khomeini sebagai lambang pemersatu, serta tokoh intelektual seperti Ali Syariati sebagai konseptor akar ideologi revolusi. Hal ini dimungkinkan oleh tradisi dan ideologi Islam Syi’ah yang berakar kuat di kalangan rakyat Iran.
Revolusi Islam Iran melahirkan konfigurasi yang khas antara Iran dan Institusi Islam, bahkan revolusi ini merupakan sebuah peristiwa terbesar dalam sejarah masyarakat Iran. Revolusi tersebut menandai puncak pergolakan politik antara penguasa Iran dan kelompok ulama yang telah berlangsung lama, akibatnya terjadi perubahan fundamental dalam sistem kenegaraan Iran yang berpengaruh terhadap sistem Pemerintahan Iran sampai sekarang.[vi]
3. Pemikiran Ali Syari’ati
            Ali Syariati merupakan sosok yang sukar untuk dipahami. Di satu sisi, dia pernah dianggap sebagai seorang Marxis, tetapi disisi lain, dia juga tidak jarang menulis artikel dan buku tentang keislaman. Guru pertama Ali Syariati adalah ayahnya sendiri, Muhammad Taqi Syariati. Dari ayahnya itu pula, Ali sudah terbiasa bergelut dengan dunia buku melalui perpustakaan milik ayahnya. 
Ketika Ali Syariati di Sorbone Prancis, ia menjalin hubungan secara pribadi dengan para intelektual terkemuka, seperti Louis Massignon, seorang Islamolog Perancis beragama Katholik, Jean Paul Sartre, seorang filsuf Eksistensialism dan Jacques Bergue. Dia juga bertemu dengan Henri Bergson dan Albert Camus. Ali Syari’ati sangat tertarik untuk mempelajari studi keislaman dan sosiologi. Aliran sosiologi Prancis yang analitis dan kritis rupanya sangat berkesan padanya, namun meskipun pernah tertarik oleh sosiologi semacam ini, pandangan sosiologi Syari’ati adalah gabungan antara ide dan aksi. Pendekatan positivis terhadap masyarakat yang menganggap sosiologi sebagai ilmu mutlak, maupun pendekatan Marxis murni baginya tidaklah menyakinkan. Pendekatan-pendekatan tersebut tidak mampu memahami atau menganalisa kenyataan-kenyataan di dunia non industri, yang sering disebut sebagai dunia ketiga. Karena itu, Syari’ati terus mencari sosiologi yang bisa menafsirkan dan menganalisa kenyataan-kenyataan kehidupan rakyat yang berada di bawah tindakan imperialisme, yang akhirnya disetujui oleh kaum komunis Eropa, dalam perjuangan mereka merebut kembali martabat dan kemerdekaan.
George Gurvich, profesor sosiologi Universitas Sorbonne sangat berpengaruh pada diri Ali Syari’ati. Gurvich adalah seorang komunis yang membelot melawan kediktatoran Stali, fasisme dan penjajahan Perancis atas Aljazair. Kombinasi sosok intelektual dan aktivis yang terjun langsung ke lapangan melawan ketidakadilan ini sedikit banyak membentuk semangat intelektual yang juga aktivis politik revolusioner. Dari dia pula, Ali Syari’ati menyerap pandangan tentang konstruksi sosiologi Marx, khususnya analisis tentang kelas sosial. Dari Jaegues Berque, Syari’ati menyerap wawasan sosiologi Islam, sedangkan dengan Fanon, ia sering berkorespondensi dan saling bertukar ide tentang peran Islam seputar tema anti kolonialisme.
Dalam pergerakan di Perancis itu, Syari’ati menjadi redaktur jurnal Iran-e Azad (free Iran) yang baru didirikan organisasi itu. Dia juga menulis di jurnal Nameh-e Par, dan menyumbangkan revolusioner al-Jazair, al-Mujahid. Karena peduli dengan gerakan revolusi dunia ketiga itulah, Syari’ati akrab dengan pemikiran, seperti Franz Fanon (wafat 1961), Aime Cesaire dan Amilcar Cabral (wafat 1973). Bahkan dia sempat ditahan karena memberikan kuliah kepada para mahasiswa revolusioner Kongo. Satu sumber menyatakan bahwa, Syari’ati ditahan di Paris karena aktivitasnya dalam gerakan pembebasan Aljazair dan dikirim ke City Prison.
            Pemahaman Islam yang ditawarkan Ali Syariati berbeda dengan pemahaman mainstream saat itu. Islam yang dipahami banyak orang di masa Syariati adalah Islam yang hanya sebatas agama ritual dan fiqh yang tidak menjangkau persoalan-persoalan politik dan sosial kemasyarakatan. Islam hanyalah sekumpulan dogma untuk mengatur bagaimana beribadah tetapi tidak menyentuh sama sekali cara yang paling efektif untuk menegakkan keadilan, strategi melawan kezaliman atau petunjuk untuk membela kaum tertindas (mustadâfin).
Islam yang demikian itu dalam banyak kesempatan sangat menguntungkan pihak penguasa yang berbuat sewenang-wenang dan mengumbar ketidakadilan, karena ia bisa berlindung di balik dogma-dogma yang telah dibuat sedemikian rupa untuk melindungi kepentingannya.
Syariati berpendapat bahwa Islam lebih dinamis dari pada agama lainnya. Terminologi Islam memperlihatkan tujuan yang progresif. Di Barat, kata “politik” berasal dari bahasa Yunani “polis” (kota), sebagai suatu unit administrasi yang statis, tetapi padanan kata Islamnya adalah “siyasah”, yang secara harfiyah berarti “menjinakkan seokor kuda liar,”, suatu proses yang mengandung makna perjuangan yang kuat untuk memunculkan kesempurnaan yang inheren.
Islam, dalam pandangan Syariati bukanlah agama yang hanya memperhatikan aspek spiritual dan moral atau hanya sekadar hubungan antara hamba dengan Sang Khaliq (Hablu min Allah), tetapi lebih dari itu, Islam adalah sebuah ideologi emansipasi dan pembebasan:
”Adalah perlu menjelaskan tentang apa yang kita maksud dengan Islam. Dengannya kita maksudkan Abu Zar; bukan Islamnya Khaffah . Islam keadilan dan kepemimpinan yang pantas; bukan Islamnya penguasa, aristokrasi dan kelas atas. Islam kebebasan, kemajuan (progress) dan kesadaran; bukan Islam perbudakan, penawanan dan pasivitas. Islam kaum mujahid; bukan Islamnya kaum ulama. Islam kebajikan dan tanggungjawab pribadi dan protes; bukan Islam yang menekankan dissimulasi (taqiyeh) keagamaan, wasilah ulama dan campur tangan Tuhan. Islam perjuangan untuk keimanan dan pengetahuan ilmiah; bukan Islam yang menyerah, dogmatis, dan imitasi tidak kritis (taqlid) kepada ulama”.[vii]
Sikap yang ditunjukkan Ali Syariati jelas ditekankan untuk para ulama yang pada waktu itu cenderung lebih bersikap pasif dan lebih memihak kepada Rezim Pahlevi.
Ali Syariati juga menawarkan sebuah konsep yaitu rausyanfikr atau ‘orang-orang yang tercerahkan’ sebagai upaya kritis terhadap pemikiran para ulama yang mendukung kekuasaan Rezim Pahlevi. Peran rausyanfikr dalam perubahan masyarakat dalam pemikiran Ali Syari’ati, sebangun dengan apa yang pernah dibayangkan oleh Antonio Gramsci tentang intelektual organik. Gramsci memetakan potensi intelektual menjadi dua kategori, yaitu itelektual tradisional dan intelektual organik. Intelektual tradisional berkutat pada persoalan yang bersifat otonom dan digerakkan oleh proses produksi, sebaliknya intelektual organik adalah mereka yang memiliki kemampuan sebagai organisator politik yang menyadari identitas dari yang diwakili dan mewakili. Intelektual organik itu, menurut Gramsci, tidak harus mereka yang fasih berbicara dan berpenampilan seorang intelektual, tetapi lebih dari itu, yaitu mereka yang aktif berpartisipasi dalam kehidupan praktis, sebagai pembangun, organisator, penasehat tetap, namun juga unggul dalam semangat matematis yang abstrak.
Bagi Syari’ati, rausyanfikr adalah kunci pemikirannya karena tidak ada harapan untuk perubahan tanpa peran dari mereka. Mereka adalah agen perubahan sosial yang nyata, karena pilihan jalan mereka adalah meninggalkan menara gading intelektualisme dan turun untuk terlibat dalam problem-problem real masyarakat. Mereka adalah katalis yang meradikalisasi massa yang sedang tidur panjang menuju revolusi melawan penindas. Masyarakat dapat mencapai lompatan kreatifitas yang tinggi menuju perubahan fundamental struktur sosial-politik akibat peran katalis rausyanfikr.
Ali Syari’ati juga berpendapat bahwa revolusi sosial bukan hanya suatu keharusan tapi juga suatu keniscayaan.  Pemikirannya ini didasarkan pada teori determinisme-historis.  Dalam teori tersebut, sejarah masyarakat manusia bergerak secara siklis, dimana tahap pertama merupakan masa jaya sistem Habil. Selanjutnya, pada tahap kedua, terjadi pergeseran.  Masyarakat dikuasai sistem Qabil. Di akhir tahapan, sistem Habil kembali merebut kendali masyarakat. Transisi antara tahap kedua dan tahap ketiga berbentuk revolusi sosial.  Revolusi sosial berarti bahwa pelaku utama revolusi tersebut adalah massa atau rakyat (al-nas).  Kendalanya, al-nas tak selalu sadar akan kondisi ketertindasan mereka dalam masyarakat Qabilian. Oleh karena itu, dibutuhkan figur yang “memicu dan menumbuhkan” kesadaran akan adanya konflik dialektis di masyarakat. Figur tersebut adalah rausyanfikr. Rausyanfikr bekerja tidak dengan tangan kosong.  Ia menggerakkan kesadaran revolusioner massa dengan instrumen ideologi.  Jadi, aktor proses kelahiran revolusi sosial adalah rausyanfikr, dan pelaku gerakan revolusinya sendiri adalah al-nas (massa, rakyat).
Sumbangan yang paling monumental dari pemikiran Ali Syari’ati adalah tesisnya yang menyatakan bahwa “kesadaran kolektif” yang menjadi basis kekuatan revolusioner tidak selalu berangkat dari kesadaran kelas, tetapi juga bisa dari kesadaran agama. Agama dalam konteks ini tentu saja bukan agama dalam pemahaman umum, tetapi agama yang telah mengalami “ideologisasi” sehingga mampu memberi kekuatan revolusioner. Oleh karena itu, tidak heran jika setelah revolusi Iran terjadi, maka kerangka teoritik yang biasanya dijadikan konseptualisasi “social movement” menjadi berantakan, karena sering meremehkan faktor budaya sebagai kekuatan “symbolic resistance”.
Catatan Kaki


[i] Ali Rahmena, ‘Ali Syariati; Biografi Politik Intelektual Revolusioner’, Erlangga, Jakarta 2000. Hal. 53
[ii] Ibid,. Hal. 55
[iii] Ibid,. Hal. 59-60
[iv] http://www.referensimakalah.com/2012/11/biografi-ali-syariati.html
[v] Ira Lapindus, ‘Sejarah Sosial Umat Islam’ Bagian 3, Terj. Ghufron A. Mas’adi, Raja Grafindo, Jakarta 1999. Hal. 48-49
[vi] Akhmad Satori, ‘Sistem Pemerintahan Iran Modern’, RausyanFikr Institute, Yogyakarta 2012. Hal. 71-72
[vii] http://www.mustikoning-jagad.com/en/index.php?option=com_content&view=article&id=901:ali-syariati-islam-agama-pembebasan&catid=36:spiritualitas&Itemid=55
Share:

Total Pageviews

Theme Support