Aku tak dapat menegasikan diri dari pengalaman perjumpaanku
dengan pribadi yang Aku sebut Engkau. Engkau itu ternyata lain dari yang lain
yang pernah Aku temui. Engkau menebarkan pesonamu membuatku terpesona hingga
menarik diriku ke dalam cintanmu. Namun Aku masih tetap sadar bahwa Aku bukan
orang yang mudah Engkau taklukkan. Aku sadar jika Aku sudah mempunyai daya
pikat, sehingga kala Engkau mengungkapkan sebongkah nada hatimu, kusambut
dengan ketulusan dan sucinya hatiku. Awalnya memang Aku belum mengerti apa yang
ada diantara kita. Aku mencoba menelusurinya lebih jauh lagi. Hingga Aku
menemukan rasa yang teramat sulit untuk ku ungkapkan. Rasa itu melekat pada
diriku. Aku berpikir dan merasa bahwa kita tidak boleh berpisah. Namun,
kenyataan berkata lain, Engkau dan Aku memiliki perbedaan yang tak mungkin
disatuhkan. Kadang Aku berpikir mungkin perbedaanlah yang membuat kita saling
memikat. Kadang juga aku bertanya, dapatkah perbedaan ini menyatukan dua hati
menjadi satu? Ataukah justru sebaliknya, perbedaan ini memaksakan kita memilih
untuk berpisah? Serentetan pertanyaan berkecamuk dalam jiwaku, membuat Aku
sulit untuk mengambil keputusan, Aku terus bergulat dengan pikiranku sendiri
antara menolak atau meneruskan cinta yang tengah bersemi dalam hati.Senin, 30 Januari 2017
KETIKA HATI BERGEJOLAK
Aku tak dapat menegasikan diri dari pengalaman perjumpaanku
dengan pribadi yang Aku sebut Engkau. Engkau itu ternyata lain dari yang lain
yang pernah Aku temui. Engkau menebarkan pesonamu membuatku terpesona hingga
menarik diriku ke dalam cintanmu. Namun Aku masih tetap sadar bahwa Aku bukan
orang yang mudah Engkau taklukkan. Aku sadar jika Aku sudah mempunyai daya
pikat, sehingga kala Engkau mengungkapkan sebongkah nada hatimu, kusambut
dengan ketulusan dan sucinya hatiku. Awalnya memang Aku belum mengerti apa yang
ada diantara kita. Aku mencoba menelusurinya lebih jauh lagi. Hingga Aku
menemukan rasa yang teramat sulit untuk ku ungkapkan. Rasa itu melekat pada
diriku. Aku berpikir dan merasa bahwa kita tidak boleh berpisah. Namun,
kenyataan berkata lain, Engkau dan Aku memiliki perbedaan yang tak mungkin
disatuhkan. Kadang Aku berpikir mungkin perbedaanlah yang membuat kita saling
memikat. Kadang juga aku bertanya, dapatkah perbedaan ini menyatukan dua hati
menjadi satu? Ataukah justru sebaliknya, perbedaan ini memaksakan kita memilih
untuk berpisah? Serentetan pertanyaan berkecamuk dalam jiwaku, membuat Aku
sulit untuk mengambil keputusan, Aku terus bergulat dengan pikiranku sendiri
antara menolak atau meneruskan cinta yang tengah bersemi dalam hati.Sabtu, 28 Januari 2017
Biografi Julius Dos Santos
Ayahnya
pensiunan tentara Klandestin, tentara pejuang kemerdekaan Timor-leste dengan Jabatan sebagai Sersan. Ibunya
seorang petani. Pada usia 3 tahun ayahnya meninggal dunia karena luka yang
dideritanya saat jatuh dari atas batu di kebun kopi milik keluarganya. Saat itu
juga keluarganya mulai hidup dalam masa-masa serba kesulitan. Ibunya harus
banting tulang untuk menghidupi keluarga mereka dan membiayai sekolah kelima
anaknya. Semua harta peninggalan suaminya dijual demi menghidupi keluarga dan
membiayai sekolah anak-anaknya. Walau hidup dalam kondisi yang serba kekurangan
atau kesulitan, namun semangat ibunya tak pernah reda. Ia bahkan sampai menjual
cabe, terong hanya untuk beli beras untuk bisa mengisi perut anak2nya. Bersyukurlah
anak-nya yang nomor dua mendapatkan beasiswa dari pemerintah daerah. Dengan
adanya bantuan tersebut dapat mengurangi beban ibu nya. Kakaknya yang nomor dua
mendapat bantuan dari paroki. Sementara kakaknya yang pertama dan ke empat
tidak melanjutkan pendidikannya setelah lulus dari Sekolah Menengah Atas.Tahun 2007 ia lulus dari Sekolah Menengah Pertama, SMP Sandalwood. Setelah lulus dari ia melanjutkan pendidikannya di Sekolah Menengah Atas, SMAN 01 Suai Cova-Lima. Masa-masa Remajanya ia menghabiskan saat ia duduk di bangku SMA. Di masa-masa ini pula lah ia mulai mengenal betapa indah dan kejamnya dunia romantisme. Asty adalah cewek pertama yang mengajarkan ia mengenal dunia romantisme. Setahun setelah lulus dari SMA pada 2010, ia pindah ke Jogja untuk melanjutkan pendidikannya.
Awal mula Ia mendaftarkan diri Universitas Ahmad Dalan (UAD) Yogyakarta. Ia memutuskan untuk mengambil jurusan Teknik Informatika. Setelah lolos dari seleksi, Ia memutuskan untuk mendaftarkan diri di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, mengambil Jurusan Hubungan Internasional. Setelah menerima hasil seleksi, Ia dinyatakan lolos, dan akhirnya Ia memutuskan untuk menekuni pendidikan di Universitas tersebut.
Setelah melewati proses yang panjang, akhirnya tahun 2018 Ia lulus dari Universitas Muhammadiya Yogyakarta, dengan predikat Lulusan Terbaik. Dan kini, Ia sedang bekerja di salah satu Organisasi Non-Governmental (NGO) dari Australia, yang berdomisili di Timor-Leste.





