Selasa, 30 Mei 2017

Pengantar Ekonomi Politik; Sebuah Pengenalan Ringkas

Jika hatimu bergetar melihat penindasan dan ketidakadilan 
maka engkau adalah saudaraku
(Ernesto Che Guevara)

Sebelum kita berbicara lebih jauh tentang ekonomi politik ada baiknya kita terlebih dahulu harus memahami tentang hal yang mendasar, mengenai tentang cara manusia untuk mempertahankan hidup dan melanjutkankan hidupnya. Manusia harus memenuhi kebutuhan primernya (dasar) seperti pangan, sandang dan papan. Oleh karena itu mereka harus memproduksi barang kebutuhan mereka, dengan proses seperti inilah mereka menggunakan alat-alat produksi dan juga tenaga mereka sendiri. Alat-alat produksi dan tenaga kerja manusia tidak pernah bersifat surut melainkan terus maju disebut sebagai tenaga produktif masyarakat yaitu kekuatan yang mendorong perkembangan masyarakat.

A. Hubungan Produksi, Tenaga Produktif dan Cara Produksi
Dalam suatu aktivitas produksi guna memenuhi kebutuhannya, manusia berhubungan dengan manusia lain. Karena Proses produksi selalu merupakan hasil saling hubungan antar manusia, maka sifat dari produksi juga selalu bersifat sosial. Saling hubungan antar manusia dalam suatu proses produksi ini disebut sebagai hubungan sosial produksi. Dari kegiatan produksi ini kemudian muncul kegiatan berikutnya yaitu distribusi dan pertukaran barang. Hubungan sosial produksi dalam sebuah masyarakat bisa bersifat kerja sama atau bersifat penghisapan. Hal ini tergantung siapakah yang memiliki atau menguasai seluruh alat-alat produksi (alat-alat kerja dan obyek kerja).
          Hubungan sosial produksi dan tenaga produktif (alat-alat produksi dan tenaga kerja) inilah kemudian membentuk suatu cara produksi dalam suatu masyarakat.Misalnya cara produksi komunal primitif, perbudakan, feodalisme, kapitalisme dan sosialisme. Perubahan yang terjadi dari suatu cara produksi tertentu ke cara produksi yang lain terjadi akibat berkembangnya tenaga produktif dalam suatu masyarakat yang akhirnya mendorong hubungan produksi lama tidak dapat dipertahankan lagi dan menuntut adanya hubungan produksi baru. Inilah hukum dasar sejarah masyarakat dan merupakan sumber utama dari semua perubahan sosial yang ada.

B. Arti penting kapital,kapitalis dan kapitalisme
       Kapital adalah modal yang dipergunakan untuk menghasilkan  produksi barang yang  di jual untuk menghasilkan keuntungan, kapitalis adalah pemilik modal yang menguasai alat-alat produksi, jadi kelas ini hidup dari alat produksi yang mereka gunakan. Sementara kelas buruh menjual tenaganya untuk pihak kapitalis untuk untuk mendapatkan upah. Sedangkan kapitalisme adalah sistem sosial dimana alat-alat produksi di pegang oleh pemilik modal atau kapitalis. Kepemilikan alat-alat produksi kemudian dipergunakan untuk menghasilkan barang-barang untuk dijual ke pasaran untuk mendapatkan untung. Keuntungan ini kemudian dipergunakan kembali untuk menambah modal mereka untuk produksi barang kembali, jual kepasar, dapat untung. Begitu seterusnya. Inilah yang kemudian sering dikatakan bahwa tujuan dari kapitalis adalah untuk mengakumulasi kapital (modal) secara terus menerus.

C. Watak-watak dari Kapitalisme
Ada tiga watak dari kapitalisme yaitu: Pertama Eksploitasi adalah melakukan pemerasan atau penghisapan terhadap sumber daya alam (SDA) untuk mencari keuntungan yang sebesar-besarnya. Seperti terjadinya eksploitasi terhadap pertambangan emas oleh negara kapitalis di papua oleh PT. prefort, Exxon Mobil di Blok Cepu, New Mont di NTB dll. Kedua Ekspansi adalah pencarian tempat yang baru, untuk bisa di jadikan lahan akumulasi modal. Contoh di Indonesia adanya perusahaan multinasional dan transnasional (MMC&TNC) kepunyaan negara maju karena dilihatnya Indonesia merupakan pangsa pasar yang empuk, atau contoh Irak yang diserang oleh Amerika Untuk mendapatkan ladang minyak baru di sana. Ketiga Akumulasi Modal adalah pengumpulan modal sebanyak-banyaknya yang di lakukan dari alat produksi yang mereka miliki sehingga keuntungan yang di dapatkan kemudian di jadikan kembali untuk modal mereka mencari keuntungan untuk kaum kapitalisme itu sendiri. Prinsip dari kapitalis adalah membayar sekecil mungkin terhadap apa yang dibelinya dan menerima sebanyak mungkin terhadap apa yang dijualnya. Tahap awal menuju keuntungan yang tinggi adalah menurunkan biaya-biaya produksi. Salah satu biaya produksi adalah upah buruh. Oleh karena itu, kepentingan kapitalis untuk membayar upah buruh serendah mungkin, dan mendapatkan hasil kerja buruhnya sebanyak mungkin. Kepentingan dari para kapitalis, bertentangan dengan kepentingan buruh. Kelas buruh berkepentingan terhadap meningkatnya upah, meningkatnya kesejahteraannya. Hal itulah yang menjadi pertentangan di dalam masyarakat kapitalis. Pihak kapitalis mendapatkan keuntungan dari apa yang di gambarkan di atas yang sering di sebut  nilai lebih melalui tenaga yang keluarkan oleh buruh untuk menghasilkan barang produksi. Kelas buruh yang tidak memiliki alat produksi harus menjual tenaga kerjanya untuk mendapatkan upah demi membeli barang kebutuhan hidupnya. 

D. Sejarah Kapitalisme Di Indonesia
Kapitalisme di indonesia berawal dari masa kolonoalisme, yang dilakukan oleh negara-negara barat yang datang ke Indonesia untuk mendapatkan lahan baru. Hasil yang di peroleh di bawa kenegara asalnya. Dalam sistemnya sendiri kapitalisme di indonesia bersifat semu dalam artian untuk melakukan pengekploitasian mereka menggunakan kaum feodal atau bangsawan sebagai mediasi. Ada perbedaan yang terjadi antara Indonesia dan negara Eropa, di Indonesia kaum feodal tidak di hancurkan oleh kaum kapitalis tetapi di Eropa kaum feodal di hancurkan. Dalam dataran ini kaum kapitalis bersengkongkol dengan kaum bangsawan untuk memanfaatkan buruh yang diambil tenaganya untuk mendapatkan modal yang sebesar-besarnya. 

Paska Kemerdekaan Indonesia
Pada zaman orde baru, kemudian kaum kapitalis masuk lagi melalui yang namanya undang-undang penanaman modal asing (UU PMA) tahun 1968. inilah cikal bakal kapitalisme paska kemerdekaan Indonesia. Sampai saat ini kapitalisme telah menjadi agama baru, menjadi sistem yang menindas dan memiskin rakyat. Kapitalisme berubah wajah baru yang kemudian  sering di sebut Neoliberalisme. Ada Tiga watak dasar dari Neoliberalisme ini, pertama liberalisasi adalah kebijakan ekonomi yang di pakai adalah pasar bebas. Kedua privatisasi adalah seluruh aset-aset negara di swastakan melalui perjanjian LOI (letter of Intens)  yang di lakukan oleh Indonesia dengan IMF atau negara-negara kapitalis, contoh BUMN, beberapa perguruan tinggi yang BHMN, PT. Indosat, Telkomsel, PT. Semen Padang dll. Ketiga deregulasi adalah undang-undang yang harus di sesuaikan dengan kebijakan dengan kapitalisme untuk di jadikan kebijakan oleh pemerintah.
Ini kemudian menjadi analisa kita bersama melihat ekonomi politik kontemporer, yang terjadi dari sistem ini adalah kemiskinan dan ketidak adilan melalui kompradornya. Hegemoni kapitalisme global, benar-benar telah menghancurkan seluruh tatanan kebangsaan bangsa Indonesia dan rakyat menjadi korban keganasannya, dan lagi-lagi pemerintah hanya hadir menjadi penindas baru didepan rakyatnya sendiri. Ketika rakyat harus dipaksa merasakan luka yang menganga, maka pembebasan menjadi kewajiban, dan ketika kata “ Merdeka “ sudah termanipulasikan dan “Kedaulatan Rakyat” terkhianati maka perlawanan menjadi keharusan.

Proses Kehidupan Rakyat dan Sistem Ekonominya
Sumber Pribadi

Share:

Senin, 29 Mei 2017

PARADIGMA FEMINISME MARXIS DALAM PERUBAHAN SOSIAL


Munculnya gerakan feminisme marxis sebagai sebuah wacana dan gerakan tidak terlepas dari sejarah awal munculnya gerakan perempuan pertama di Perancis. Dimana aktivis-aktivis perempuan pada saat itu banyak dipengaruhi oleh pemikiran liberalisme. Sehingga melahirkan apa yang disebut sebagai feminisme liberal. Aliran ini mengkritik adanya faham liberalisme.pada derajat tertentu aliran tersebut mengakui persamaan ras, warna kulit, agama, dan status sosial ekonomi. Pada aliran feminisme liberal, yang diperjuangkan adalah persamaan pendidikan dan profesi serta hak-hak politik didalam undang-undang dan berparlemen (yuridis formal). Pada perjuangan itu, kadang-kadang terjadi bias, yaitu perjuangan hanya terbatas pada kalangan menengah atas saja. Kaum perempuan beropendidikan tinggi yang berhasil duduk dalam parlemen dan kabinet seringkali terhambat oleh sistem politik dalam menyampaikan aspirasi perempuan kalangan bawah. Perjuangan hal untuk memilih atau berparlemen ternyata bukan satu satunya cara untuk meningkatkan status perempuan kelas bawah. Perjuangan tersebut dipandang oleh kalangan perempuan kelas bawah sebagai reformasi saja, tanpa suatu tindakan konkrit yang mengakar pada persoalan ketimpangan gender, khususnya dalam mode produksi masyarakat.
            Hal ini menyadarkan aktivis perempuan untuk memilih sikap keberpihakan terhadap kesejahteraan kelas bawah. Analisis kelas diyakini dapat mempersatukan gerakan perempuan secara lintas kelas. dalam hal ini marxisme dijadikan sebagai pandangan yang dianggap dapat mencapai pembebasam perempuan dengan melalui pembebasan kelas. 

A.    Feminisme Marxis
Selain feminisme Marxis, dalam pendekatan konflik terdapat paradigma feminisme yang lain yaitu feminisme radikal dan feminisme sosialis.  Berbeda dari feminisme radikal yang menitikberatkan sumber penindasan pada kaum laki-laki dan pola perjuangannya adalah perlawanan terhadap kaum laki-laki, maka feminisme marxis melihat penindasan perempuan terletak pada mode of production atau menggunakan analisis marxis. Bagi feminisme marxis penindasan perempuan adalah bagian dari penindasan kelas dalam hubungan produksi. Persoalan perempuan diletakkan dalam kerangka kritik atas kapitalisme.
Penindasan perempuan merupakan kelanjutan dari sistem eksploitatif yang bersifat struktural. Oleh karenanya, patriarkhi ataupun kaum laki-laki tidak dianggap sebagai akar peemasalahan, akan tetapi sistem kapitalisme yang sesungguhnya merupakan penyebab masalahnya. Dengan demikian penyelesainnya pun bersifat struktural, yakni hanya dengan melakukan perubahan struktur kelas dan pemutusan hubungan dengan sistem kapitalisme internasional. Perubahan struktur tersebut hanya dapat dilakukan dengan jalan revolusi. Dalam proses revolusi ini kaum perempuan harus berjuang bersama-sama dengan kaum pekerja. Namun demikian, setelah proses revolusi jaminan persamaan antara laki-laki dan perempuan belumlah cukup, karena perempuan masih dirugikan oleh tanggungjawab domestik mereka. Oleh karena itu, “kecuali jika urusan mengelola rumah tangga ditransformasikan menjadi industri sosial, serta urusan menjaga dan mendidik anak menjadi urusan publik, maka perempuan tidak akan mencapai kesamaan yang sejati” (Engels). Emansipasi perempuan hanya akan terjadi jika perempuan terlibat dalam produksi dan berhenti mengurus rumah tangga. Proses itu hanya akan terjadi melalui industrialisasi. Perubahan status perempuan terjadi melalui revolusi sosialis dan dengan menghapuskan pekerjaan domestik ( rumah tangga ).

B. Analisis Feminisme Marxis Terhadap Mode of Production  
Karl Marx sendiri tidak banyak menjelaskan dalam teorinya tentang posisi kaum perempuan dalam perubahan sosial. Menurut Marx hubungan suami dan istri serupa dengan hubungan antara proletar dan borjuis, serta tingkat kemajuan masyarakat dapat diukur dari status perempuannya. Sedangkan Engels (Sahabatnya ) mengulas masalah ini dalam sejarah pra-kapitalisme. Dalam bukunya yang berjudul: The Origin Of the Family ; Private Property and the State, Engels menjelaskan bahwa sejarah keterpurukan status kaum perempuan bukan disebabkan oleh perubahan tekhnologi, melainkan karena perubahan dalam organisasi kekayaan. Munculnya hewan piaraan dan pertanian menetap, yakni suatu masa awal penciptaan surplus, adalah dasar munculnya private property yang kemudian menjadi dasar bagi perdagangan dan produksi untuk perdagangan. Karena laki-laki mengontrol produksi untuk perdagangan, maka mereka mendominasi hubungan sosial dan politik dan perempuan direduksi menjadi bagian dari property belaka. Sejak itulah dominasi laki-laki dimulai.
Pada zaman kapitalisme, penindasan perempuan malah dilanggengkan oleh berbagai cara dan alasan kerana menguntungkan. Pertama, melalui apa yang disebut sebagai eksploitasi pulang ke rumah, yakni suatu proses yang diperlukan guna membuat laki-laki yang dieksploitasi di pabrik bekerja lebih produktif. Buruh laki-laki yang bekerja di pabrik dan dieksploitasi oleh kapitalis, selanjutnya pulang ke rumah dan terlibat dalam suatu hubungan kerja dengan istri masing-masing. Dalam analisis ini sistem dan struktur hubungan antara kapitalis, buruh dan istrinya adalah sistem yang pada akhirnya menguntungkan pihak kapitalis. Kedua, kaum perempuan dianggap bermanfaat bagi sistem kapitalisme dalam reproduksi buruh murah. Di negara kapitalis maju, dalam struktur dan sistem masyarakat yang yang kapitalistik itu, pihak kapitalis menggantungkan sendi terjaminnya persediaan buruh pada keluarga buruh itu sendiri. Ketiga, masuknya perempuan sebagai buruh juga dianggap oleh mereka sebagai menguntungkan sistem kapitalisme dengan dua alasan: (1) upah buruh perempuan seringkali lebih rendah dibandingkan buruh laki-laki. upah buruh yang rendah ini membantu pihak kapitalis melakukan akumulasi kapital secara lebih cepat. (2) dengan masuknya perempuan dalam sektor perburuhan juga dianggap mnguntungkan sistem kapitalisme karena proses itu dianggap sebagai proses penciptaan buruh cadangan yang tak terbatas. Dalam analis ini, besarnya cadangan buruh ini akan lebih memperkuat posisi tawar menawar kaum kapitalis di hadapan buruh dan sekaligus mengancam solidaritas kaum buruh, dan akhirnya mempercepat akumulasi kapital bagi kapitalis.
Share:

Selasa, 23 Mei 2017

Mengenal Tipologi Mahasiswa Sebelum Memasuki Gerbang Kuliah

Menjadi seorang mahasiswa merupakan kebanggaan tersendiri bagi yang menyandangnya.Mahasiswa selalu dipandang memiliki tingkat intelektualitas yang tinggi, dewasa, mandiri, kritis dan bertanggung jawab. Sehingga sering kali dibedakan dengan Siswa atau Pelajar Biasa. Perbedaan ini dikarenakan Mahasiswa sering diidentikkan dengan sebutan agent of change (Agen Perubahan), Iron stock (Generasi Penerus Masa Depan), Agent of Social Control (Agen Penyampai Kebenaran) dan lain sebainya. Dengan kata lain, kata Maha yang terkandung dalam kata Mahasiswa membuat orang yang menyandangnya selalu dianggap orang dapat menyelesaikan dan menghadapi segala perkara dan tantangan.

Denan demikian Mahasiswa seharusnya menjadi garda terdepan dengan gerakan-gerakan massif dan progressifnya, mahasiswa juga harus peka terhadap isu-isu yang berkembang di  lingkungan sekitaranya, kritis terhadap apapun yang dialami, dan membawa perubahan pada lingkungan sekitarnya. Namun, tidak semua mahasiswa bisa berbuat demikian. Tidak sedikit pula ada mahasiswa yang bahkan menjadi cibiran dalam lingkungan mereka sendiri, karena tidak mampu memberikan kontribusi seperti yang diharapkan oleh masyarakat.
Hal ini disebkan karena dalam diri mahasiswa itu sendiri terdapat berbagai tipe. Ada mahasiswa doyan kritis, ada mahasiswa yang suka terima jadi, ada mahasiswa copy paste edit sedikit, ada mahasiswa asal bunyi dan lain sebagainya. Tipologi mahasiswa dapat dikatakan sebagai penggolongan watak mahasiswa yang ada di perguruan tinggi, misal berwatak idealis, hedonis, profesional, apatis, pragmatis dan lain sebainya.
Dalam tulisan ini, saya akan menjelaskan tentang tipologi mahasiswa Idealis, Hedonis, Profesional, Apatis, Pragmatis dan Kritis. Berikut penjelasannya.
a.       Tipologi Mahasiswa Idealis.
Menurut kamus besar bahasa Indonesia,  kata ideal sangat sesuai dengan segala sesuatu yang dicita-citakan atau diangan-angankan atau dikehendaki oleh seseorang. Mahasiswa ideal adalah mahasiswa atau yang mempunyai kriteria yang cukup unik (unique) seperti, berpenampilan rapi, sopan dalam bertutur kata, kritis dalam menanggapi situasi baik di lingkungan kampus maupun di lingkungan masyarakat di tempat Ia berada, mahasiswa yang membawa setiap aspirasi masyarakat/rakyat yang dianggap lebih penting, mempunyai otak yang cerdas, bertanggung jawab, disiplin, rajin dan terampil dalam menganalisa suatu masalah yang sedang terjadi maupun masalah yang akan dihadapinya nanti.
Dari penjelasan ini dapat disimpulkan bahwa mahasiswa idealis adalah mahasiswa yang mampu menyesuaikan kepentingannya di internal kampus maupun eksternal kampus. Tipe mahasiswa ini sangat penting untuk dimiliki oleh seorang mahasiswa khususnya mahasiswa baru. Guna memciptakan pemikiran mahasiswa yang ideal atau menciptakan kesadaran bahwa mahasiswa adalah arsitek dari pembangunan suatu bangsa dapat dilakukan sejak mahasiswa memasuki gerbang kuliah. hal ini dikarenakan mahasiswa baru masih terlihat polos dan belum mempunyai idealisme, sehingga masih bingung dalam mencari jalan apa yang akan ditempuh ke depannya.
Ironisnisnya, jalan yang ditunjukkan oleh para birokrat tentang mahasiswa ideal adalah tunduk pada kebijakan birokrasi, lulus empat tahun, dan mempunyai Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) yang tinggi. Mindset atau pemikiran-pemikiran seperti inilah yang nantinya akan menggiring mahasiswa baru untuk manut dan meninggalkan rasa kritisnya yang kemudian mengakibatkan diskusi-diskusi di kampus akan semakin berkurang, organisasi intra maupun extra kampus mulai sepi peminatnya, ironisnya lagi ketika kita kritis malah dicap sebagai pembangkang. Dengan kondisi yang seperti itu maka akan tercipta inlander-inlander baru yang tunduk terhadap penguasa kampus. Mahasiswa, layaknya bebek yang mau di giring ke kanan, ke kiri oleh pemiliknya. Dampak yang lebih luas lagi adalah lebih menganganya jurang antara mahasiswa dengan rakyat.
b.      Tipologi Mahasiswa Hedonis
Mahasiswa Hedonis sering juga disebut dengan istilah Trend Setter. Mahasiswa tipe ini adalah orang-orang yang mengalami disorientasi dalam proses belajar-mengajar dalam perkuliahan. Tipe mahasiswa ini kerjaanya kebanyakan hanya diisi dengan kegiatan foya-foya, berdandan habis-habisan, dan menghamburkan uang tanpa tujuan yang jelas. Tipe Mahasiswa Hedonis adalah Tipe mahasiswa yang tidak mementingkan perkuliahan dan tidak juga mementingkan organisasi, dia hanya memikirkan bagaimana dirinya senang dengan dunianya. Biasanya mahasiswa yang seperti ini dikategorikan ke dalam mahasiswa yang hedonis (hura-hura), apatis dan juga mahasiswa kupu-kupu alias kuliah pulang kuliah pulang.
Maka tidak heran jika kita sering mendengar istilah mahasiswa kuupu-kupu (kuliah pulang-kuliah pulang), mahasiswa kunang-kunang (kuliah nagkring-kuliah nangkring), juga tak sedikit dari mereka yang menjadi shopaholic, hampir setiap mall sudah di jambangi, beli ini, beli itu. Jika dulu RenĂ© Descartes menyatakan eksistensi manusia dengan jargon Cogito Ergo Sum yang berarti “aku berpikir maka aku ada” maka mahasiswi sekarang akan mengatakan Emo Ergo Sum, “aku belanja maka aku ada”. Belanja menjadi semacam eksistensi mahasiswi untuk bisa diterima dikelompoknya.
c.       Tipologi Mahasiswa Profesional.
Mahasiswa tipe ini adalah mahasiswa yang aktifitasnya sebagian besar dipusatkan untuk dapat memperoleh nilai yang baik, kerjanya belajar dan belajar, dan cenderung apatis terhadap masalah-masalah disekelilngnya.
d.      Tipologi Mahasiswa Apatis.
Tipe Mahasiswa ini adalah mahasiswa yang tidak peduli dengan kehidupan di sekitarnya. Dapat juga dikatakan Mahasiswa tipe ini adalah mahasiswa yang hanya mementingkan kepentingannya sendiri. Adagium mahasiswa apatis adalah Urusanmu adalah urusanmu, urusanku adalah urusanku. Tipe ini dapat dikatakan tipe paling buruk dari tipologi mahasiswa.
e.       Tipologi Mahasiswa Pragmatis
Tipe mahasiswa ini adalah orang-orang yang mengandalkan kecakapan mereka dalam berinteraksi untuk dapat menonjol diantara kawan-kawannya, kecenderungan mereka adalah mencari muka didepan birokrat-birokrat kampus.
f.       Tipologi Mahasiswa Kritis
Tipe mahasiswa ini sering kita jumpai dari dulu hingga sekarang. Orang-orang yang termasuk dalam kategori ini biasanya orang-orang yang aktif dalam dinamika organisasi. Sehingga Mahasiswa jenis ini sering disebut sebagai mahasiswa yang mempunyai kecenderungan berfikir kritis, ia menjadi seorang yang mau memecahkan masalah-masalah yang dihadapi oleh komunitasnya, mempunyai pandangan dan analisa yang mendalam persoalan-persoalan yang dihadapi baik di dunia kampus maupun di luar kampusnya.
Dari berbagai tipologi mahasiswa yang dijelaskan di atas, penting bagi seorang mahasiswa khususnya mahasiswa baru untuk menilai dirinya termasuk dalam tipologi mana. Hal ini sangat penting karena dengan cara ini kita dapat mengetahui posisi dan peran kita sebagai mahasiswa, terutama mahasiswa yang hidup di bangsa yang penuh dengan problematika. Sebagai mahasiswa sebenarnya kita memiliki dua peranan yaitu: sebagai Agent of  Change yang berarti kita harus mampu dan selalu menjadi pelopor dalam setiap gerak perubahan kearah yang lebih baik termasuk dalam persoalan negara. Dan yang kedua adalah peran sebagai agent of control. Peran ini sangat berkaitan dengan kemampuan kita dalam mengontrol kebijakan yang ditelurkan oleh penguasa.Apakah kebijakan tersebut berpihak kepada masyarakat atau tidak, sehingga oreantasi perubahan dapat diawasi setiap saat.
Hal yang perlu kita jadikan sebagai pegangan atau pedoman dalam memilih tipologi adalah kita harus berkomitment dan konsisten. Hal ini disebabkan banyak realita yang menunjukkan bahwa ketika seseorang mahasiswa memilih untuk menjadi seorang yang idealis, kritis yang selalu membawa nama rakyat kecil, turun ke jalan, menjembatani kepentingan rakyat dan sederet aktivitas sosial lainnya, tetapi begitu lulus dan bekerja di perusahaan besar apakah perusahaan nasional atau malah asing. Maka itu sudah menunjukkan bahwa kita tidak konsisten apa yang kita suarakan pada masa kita menjadi seorang idealis, aktifi, atau kritis.  Maka saat itu juga muncul berbagai kata-kata dari orang-orang dulunya kita cap sebagai pragmatis atau teman-teman seperjuangan di masa kuliah. Mereka akan serta merta mencap sebagai pragmatis. Mahasiswa idealis yang berubah menjadi pragmatis begitu lulus kuliah.



Share:

Total Pageviews

Theme Support