Senin, 09 April 2018

Komentar Singkat Terhadap Kritikan Negatif Dari Tetangga Atas Pembangunan di Timor-Leste


Komentar Singkat Atas Kritikan Negatif Dari Saudara/i Tetangga Timor-Leste Terhadap Pembangunan di Timor-Leste. Tonton Videonya terlebih dahulu sebelum membaca komentar singkat saya terhadap komentar negatif dari saudara/i dari negara Tetangga Timor-Leste.


Selama ini saya sering mengupdate informasi tentang Timor-Leste, Negeri Matahari Terbit yang merupakan tanah kelahiran saya sendiri. Setiap kali saya menemukan berita tentang Timor-Leste, selalu saja ada komentar buruk tentang Timor-Leste. Mulai dari membandingkan Timor-Leste dengan Negara-negara lain hingga  menjelek-jelekkan Timor-Leste. Saya heran kenapa orang tidak bisa menerima atau sedikit saja mengapresiasi usaha orang lain ketimbang menilai kelemahan atau kegagalan orang. Parahnya lagi ada yang menjastifikasi negatif tanpa mengetahui terlebih   dahulu kondisi real yang ada di lapangan. Dan itu pelakunya adalah generasi penerus bangsa. Aneh, tapi orang-orang ini sering saya temukan baik di dunia maya maupun di dunia nyata. Jadi komentar di bawa ini merupakan sebagian expresi saya terhadap komentar atau kritikan negatif terhadap negara Timor-Leste pada umumnya dan isi video di atas pada khusunya. Berikutnya komentar singkat dari saya: 

Setelah membaca komentar dari kawan-kawan yang kurang terima atau yang berkomentar buruk tentang isi Video ini, saya sebagai generasi muda Timor-Leste mengucapkan terima kasih yang sebanyak-banyaknya atas komentar kawan-kawan baik yang bersifat negatif maupun yang bersifat positif.

Komentar kawan-kawan akan kami generasi muda Timor-Leste jadikan sebagai suatu pelajaran atau referensi untuk membangun Timor-Leste yang lebih baik lagi di masa yang akan datang. Kami sadar memang masih banyak PR yang harus diselesaikan, sebab kemerdekaan yang direbut oleh para Pendiri Negara Timor-Leste dari tangan kolonialisme bukan merupakan akhir dari perjuangan kami namun merupakan awal dari perjuangan kami. Kami akan terus berjuang membangun Negara dan Bangsa Timor-Leste yang lebih baik lagi. Kekeliruan kawan-kawan dan kurangnya pemahaman kawan-kawan terhadap kondisi real di Timor-Leste pun kami maklumkan.

Memang harus diakui bahwa membangun Negara dari dasar dengan Sumber Daya Manusia (SDM) yang minim bukanlah pekerjaan yang mudah. Tidak segampang membalikkan telapak tangan, atau tidak segampang kita menjastifikasi usaha orang. Tapi harus diakui juga bahwa membangun Negara dalam kurun waktu 15 tahun dengan "sebagian" perkembangan yang kawan-kawan saksikan sendiri dalam isi video di atas juga merupakan katalisasi pembangunan yang patut diacungkan jempol. 

Saya sendiri merupakan salah satu dari ribuan mahasiswa Timor-Leste yang sedang menekuni pendidikan di Indonesia, sudah hampir 6 tahun saya tinggal di Indonesia, turun ke basis rakyat, hidup bersama rakyat Indonesia yang digusur, ditindas atau diekploitasi, menyadarkan saya bahwa kehidupan rakyat Indonesia masih jauh dari kata sejahtera. 

Pada tahun 2013, saya terjun ke Banjarnegara tepatnya ke kebun pakishaji. Tiga minggu saya hidup bersama petani disana, mereka mengatakan bahwa mereka tidak merasakan kalo Indonesia sudah merdeka. Ketika saya menanyakan alasannya kenapa, jawabannya karena mereka masih merasakan penindasan, penggusuran, ketidakadilan, layaknya dulu masih hidup di zaman kolonialisme. Banyak sekali kasus di kehidupan rakyat Indonesia yang menurut saya patut kawan-kawan ketahui terlebih dahulu sebelum menjastifikasi pembangunan di Timor-Leste.

Apalagi sebagian kawan-kawan yang berkomentar buruk terhadap isi Video di atas merupakan aset negara, calon-calon penerus bangsa. Cobalah sesekali melihat lingkungan sekitar kawan-kawan, rasakan bagaimana penderitaaan yang dialami oleh saudara-saudara di sekitar kawan-kawan, buka mata kawan-kawan, hayati dan resapi apa yang dirasakan oleh saudara-saudara di sekitan kawan-kawan, maka kawan-kawan akan tau dan sadar bahwa mereka butuh kalian bukan sebagai penjastis negara orang lain tanpa landasan yang jelas, tapi mereka butuh kalian sebagai agen perubahan, melihat dan merasakan kehidupan mereka lalu merubahnya. Jujur saja, saya sedih membaca komentar buruk dari kawan-kawan, kadang juga saya emosi. Saya sedih bukan karena komentar jelek kawan-kawan, tapi karena ketidakmampuan kawan-kawan dalam menghargai apa yang dilakukan oleh orang lain. Saya akui bahwa kawan-kawan memang jago melakukan jastifikasi, jago melakukan krtikik, tapi seringkali jastifikasi dan kritik kawan-kawan tidak didukung oleh fakta. Dan yang paling parah adalah ketidakmampuan kawan-kawan untuk menghargai atau mengapresiasi keberhasilan orang lain meskipun dengan porsi yang sedikit. Kawan-kawan adalah aset negara, sadarlah kawan-kawan, lihat apa yang sedang terjadi, masak mau personality terus yang dikritik. So, wake up, be the part of the change that you wanna enjoy...

Sekali lagi saya bertemakasih kepada komentar kawan-kawan atas video di atas. Komentar kawan-kawan membangkitkan kesadaran dan semangat saya untuk tidak membiarkan orang lain menghina negara kami, begitu juga sebaliknya. Kita harus belajar mengapresiasi usaha orang lain, meskipun itu tidak banyak. Dan kita juga harus tau bahwa setiap proses pembangunan state building dan nation building di setiap negara masing-masing memimiliki perbedaan.

Terakhir, Mohon maaf bila ada kata-kata yang kurang mengena di hati kawan-kawan. Semua yang kuutarakan diatas merupakan sebuah manisfestasi dari kegelisahan saya terhadap komentar-komentar negatif terhadap negara saya. Saya yakin mungkin kawan-kawan juga akan merasakan yang sama ketika berada pada posisi saya. Sekali lagi, Obrigado Wain........

Share:

Kamis, 08 Maret 2018

Puisi Dies Natalis FORESKO Ke-X


Selamat Ulang Tahun Untuk-mu

Hari demi hari terus berjalan
Waktu pun berganti bagaikan kilat
Perubahan adalah sebuah realitas yang harus dihadapi
Sebagai konsekuensi logis atas akhir dari sebuah langkah
Generasi ke generasi telah kau ciptakan
Dari zamanmu yang masih naif kini menjadi indah

Zamanmu kini telah berubah
Zaman penuh dengan zombie
Zaman penuh dengan hedonis
Zaman oportunistis
Zaman individualistik
Namun, Kau tetap berdiri kokoh dengan namamu
Namamu Kini dikenal dimana-mana
    FORUM ESTUDANTE KOBA-LIMA (FORESKO)
Semuanya Bukan karena kau cantik
Bukan pula karena kau kaya
Melainkan kau senantiasa menyadarkan generasi muda akan pentingnya arti pendidikan
Bahwa ini bukan tentang bagaimana kita mendengar
Melainkan bagaimana kita mengerti
Bahwa Ini bukan tentang bagaimana kita melihat
Melainkan bagaimana kita merasakan

Kau bagai peri bagiku
Saat aku lemah, kau mampu menguatkan aku
Saat aku malas, kau senantiasa mengingatkanku
Bahwa aku adalah harapan
Aku adalah tujuan
Aku adalah masa depan

Kini usiamu telah 10 tahun
Ulang tahunmu sedang dirayakan
oleh generasi baru yang sedang kau persiapkan
Selamat Ulang Tahun Untukmu
FORUM ESTUDANTE KOBALIMA
Selalu jadi ruang pemersatu bagi generasi muda
Bangkitkan semangat mereka
Hancurkan kebodohan mereka
Kokohkan jiwa intelektual mereka
Agar tak muda tergoyahkan
Jayalah Selalu....

                                                                                                   Julius Dos Santos
Yogyakarta, 2 Maret 2018

Share:

Kamis, 04 Januari 2018

TEORI NEGARA

 Teori Negara
Wacana Dasar Basis UMY
            Berbicara tentang negara, maka akan banyak pendapat yang berbeda. Terutama jika pembahasan sudah menyangkut tentang untuk siapa sebenarnya negara hadir?. Oleh karena itu pembahasan negara saat ini merupakan kajian yang sangat penting, di keranakan rutinitas kita sehari-hari tidak bisa terlepas dari yang namanya negara. Kondisi negara terutama di bangsa ini menunjukkan kearah yang menyesatkan terutama negara tidak benar-benar hadir untuk kepentingan rakyat. Cerminan dari tidak hadirnya negara untuk rakyat bisa kita lihat dari banyaknya kepentingan rakyat yang harus di kalahkan dengan kepentingan modal asing. Oleh karena itu pemahaman kita terhadap posisi negara yang sebenarnya, akan mengantar kita pada pemahaman bahwa negara tidak selamanya ada untuk kepentingan bersama. Berikut beberapa teori tentang negara tentang asal-usul lahirnya negara:
A.           Negara Absolut
Teori negara absolute dibangun atas dasar hipotesa negara harus memiliki kekuasaan yang besar dan tak terbatas. Kekuasaan negara yang besar ini di karenakan masyarakat sebelum ada negara yang masih terdiri dari kelompok dan klan hidup dengan kekacauan. Masyarakat masih hidup tanpa ada aturan, selalu terlibat dalam pertempuran semua melawan semua (Bellum Omnes contra omnes), ini terjadi karena setiap orang bebas melakukan apa saja yang dikehendakinya. Karena itu masyarakat menjadi tidak tertib, sehingga negara dengan kekuasaan yang mutlak harus ada. Kenapa kekuasaan mutlak ini harus ada di karenakan hanya negara yang memiliki keinginan yang bisa menuntun masyarakat hidup dalam kedamaian. Negara merupakan representasi dari kepentingan umum yang akan mengendalikan kepentingan bebas setiap individu.

B.            Negara Konstitusional
Teori negara konstitusional bertolak belakang dari teori negara absolute yang memposisikan negara dengan kekuasaan mutlaknya. Teori negara ini cenderung melihat bahwa kekuasaan negara tidak boleh mutlak, karena sumber keadaulatan sebenarnya adalah rakyat, bukan negara dan bukan juga tuhan, karena itu rakyat harus berdaulat. Teori ini muncul karena kekhawatiran terhadap kemungkinan penyalahgunaan kekuasaan oleh penguasa, yang tidak terkontrol. Semangat untuk mengendalikan kekuasaan pertama kali muncul ketika Martin Luther melakukan kritik terhadap kekuasaan gereja yang tidak terkontrol. Luther menuduh bahwa gereja menyelenggarakan kekuasaanya untuk memperoleh kekayaan dan kekuasaan gereja. Karena itu Luther juga mulai berbicara tentang hak untuk memberontak seandainya kaisar atau raja melanggar undang-undang. Pikiran-pikiran Luther juga didukung oleh kaum Monarco (Kaum pembantah raja). Salah satu persoalan yang sering mereka lontarkan adalah jika raja memiliki keabsahan kekuasaanya dari gereja dan kemudian raja melanggar kaidah hukum gereja dan gereja tetap merestuinya, haruskah raja dipatuhi ?
Serangan kaum monarco mendorong lahirnya teori tentang kontrak sosial. Menurut teori ini negara lahir dari adanya suatu perjanjian luhur antara rakyat, untuk melindungi hak milik, hak hidup, hak kebebasan, baik yang berasal dari dalam negeri maupun luar. Selain itu Para pemikir tentang negara juga mulai memikirkan bagai mana membatasi kekuasaan negara. Salah satu upaya untuk membatasi kekuasaan negara adalah dengan membagi-bagi kekuasaan negara, maka kemudian lahirlah teori tentang Trias Politica yang membagi kekuasaan negara menjadi tiga yaitu Eksekutif Legislatif dan Yudikatif. Tujuan dari pembagian kekuasaan ini adalah untuk menghindari pemusatan kekuasaan ditangan satu orang atau satu lembaga.  
C.           Negara Etis
Teori negara yang ketiga adalah teori negara etis, disebut sebagai teori etis karena dalam teori ini negara dianggap mempunyai misi suci untuk memajukan kesejahteraan umum dan untuk membebaskan manusia dari ketidakadilan dan penindasan. Teori negara etis mengacu pada filsafat Hegelian tentang negara, Hegel mendukung pemberian kekuasaan yang besar pada negara. Argumentasinya didasarkan atas pertentangan antara kepentingan individu yang egoistis dengan kekuasaan umum yang mulia.
Bagi Hegel, sejarah umat manusia merupakan proses dari sebuah ide yang universal yang sedang berproses, dari sebuah ide yang kemudian merealisasikan dirinya menuju kesempurnaan. Sejarah manusia adalah rangkaian proses mewujukan ide universal tersebut. Ujung dari proses relisasi ide universal itu adalah terciptanya sebuah masyarakat yang ideal.
Negara menurut Hegel adalah penjelmaan dari ide universal tersebut, sedangkan individu merupakan representasi dari kepentingan yang particular dan sempit. Negara memperjuangkan kepentingan umum yang lebih besar yakni mewujudkan ide universal yang menjadi tujuan dari sejarah umat manusia. Negaralah yang akan menjadi agen sejarah untuk membantu manusia yang sekarang berproses menjadi manusia yang akan membentuk masyarakat yang sempurna dikemudian hari. Keinginan negara adalah keinginan umum untuk kebaikan semua orang karena itu negara harus dipatuhi. Untuk bisa dipatuhi negara harus memiliki kekuasaan yang besar. Karena itu menurut Hegel negara harus memiliki hak untuk memaksakan keinginanya kepada warga, sebab negara adalah wujud dari kemerdekaan rasional yang menyatakan dirinya dalam bentuk obyektif, karena itu negara ada di atas semua golongan masyarakat.
D.           Teori Negara Marxis-Leninisme
Dalam pandangan teori ini negara harus memiliki kekuasaan yang mutlak untuk dapat memaksakan kehendaknya kepada warga. Bentuk negara ideal adalah Diktator Proletar, tetapi bentuk ini bukanlah bentuk akhir yang di cita-citakan sebab cita-cita akhirnya adalah masyarakat tanpa negara.
Argumentasi yang dibangun Karl Marx adalah dengan melihat sejarah manusia yang merupakan proses pertentangan kelas. Dimana pada zaman feodal terjadi pertentangan antara kelas bangsawan dengan kelas petani, di zaman perbudakan terjadi pertentangan kelas antara pemilik budak dengan budaknya, dan di zaman kapitalisme terjadi pertentangan antara kelas pemilik modal dengan buruhnya. Pertentang kelas ini baru berhenti pada saat terciptanya masyarakat komunis dimana buruh berkuasa, dan pada masa inilah tidak ada lagi ekploitasi karena semua diatur bersama. Tidak ada lagi kepemilikan alat produksi secara pribadi baik individu atau kelompok masyarakat.
Dalam masyarakat komunis menurut Marx, kepemilikan modal oleh sekelompok orang dihapuskan. Modal dimiliki secara bersama oleh semua orang. Dengan demikian tidak ada lagi perbedaan antara buruh dan majikan karena semua orang adalah buruh sekaligus majikan. Inilah bentuk akhir perjalanan sejarah manusia, karena disinilah manusia merdeka.
Masyarakat komunis bagi kaum Marxis adalah akhir tujuan yang harus direalisasikan. Hegel bahwa Negaralah agen sejarah yang bisa merealisasikan ide universal, sedangkan kan Marxis melihat bahwa kaum buruh adalah agen sejarah yang akan membidani lahirnya masyarakat yang merdeka, bukan seperti yang dikatakan Hegel.
E.            Negara pluralis
Menurut teori pluralis negara adalah wahana tempat berkompetisinya kelompok-kelompok yang ada dimasyarakat. Oleh karena itu sistem politik yang demokratis dengan aturan main yang jelas dan di sepakati secara bersama merupakan syarat mutlak bagi berlangsungnya kompetisi tersebut. Kekuasaan negara di pandang harus berada di tangan rakyat bukan di negara. Kekuasaan negara harus secara terus menerus dan teratur di kembalikan kepada rakyat dari waktu kewaktu secara berkala melalui mekanisme pemilihan umum. Adanya pemilihan umum ini maka secara teratur dan berkala pemegang kekuasaan negara di desak untuk mempertanggung jawabkan kebijakan-kebijakanya kepada masyarakat.
Kaum pluralis menolak memberikan kekuasaan secara mutlak kepada negara, karena kekuasaan yang mutlak pada negara akan mengakibatkan negara menjadi lemah karena tidak didukung oleh kelompok-kelompok yang ada dimasyarakat.
Ø   Realitas Negara dan Perlunya Revolusi
Jika melihat negara dalam konteks kekuasaan dan pemerintahan saat ini maka  akan sampai pada relitas bahwa negara tidak lagi hadir representasi dari kepentingan rakyat. Perang imperialis telah sangat mempercepat dan memperhebat proses perubahan dari kapitalisme monopoli sumber produksi menjadi kapitalisme monopoli-negara. Penindasan atas massa rakyat oleh negara, yang telah menjadi agen capitalisme internasional menjadi mengerikan lagi. Perselingkuhan kapitalisme internasional dengan negara yang menguasai aset-aset produksi ekonomi menyebabkan segala kebijakan dikendalikan untuk menjadi sumber akumulasi bagi pemilik modal. Imbas yang akan dirasakan adalah rakyat menjadi budak bagi kepentingan kapitalime. Ini terjadi dikarenakan negara bukan sebagai lembaga yang netral dan jauh dari kepentingan akan tetapi merupakan alat kelas untuk menindas kelas lainya.
Oleh karena itu untuk mengembalikan fungsi negara kepada asalnya, sebagai alat untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat di perlukan sebuah perjuangan massa rakyat terdidik untuk merebut negara. karena itu, untuk mewujudkan kedaulatan rakyat ada beberapa persyarat yang harus dilakukan:
·                Pembentukan organisasi sebagai alat perjuangan
Persyaratan bagi berhasilnya perjuangan tentunya tidak terlepas dari alat perjuangan yang dimilikinya. Disinilah letak pentingya sebuah organisasi revolusioner yang mampu mengantar perjuangan rakyat merebut kekuasaan. Dengan adanya organisasi sebagai alat perjuangan maka perlawanan rakyat akan semakin massif di karenakan kader yang menjadi persyarat organisasi akan melakukan pendidikan politik di basis massa. Pendidikan politik ini penting agar massa rakyat benar-benar massa yang terpimpin dan terdidik yang akan membuat perjuangan tetap di garisnya.
·                Perebutan kekuasaan negara
Perebutan kekuasaan terhadap negara yang di lakukan oleh massa rakyat merupakan prasyarat yang tidak bisa dihindarkan. Negara selama ini hanya menjadi alat penindas bagi rakyat karena negara dengan kekuasaan dan sistem politiknya telah memaksa rakyat untuk patuh. Oleh karenaya dalam melakukan perjuangann maka massa rakyat yang terdidik harus menolak semua sistem politik yang jelas-jelas di angun oleh penguasa untuk melanggengkan pemerintahanya.
Perebutan kekuasaan oleh massa rakyat tentunya akan membuat sistem dan tatanan pemerintahan yang baru. Penguasaan alat produksi dan sumber-sumber ekonomi dan dikelolahnya sumber-sumber ini oleh negara akan membuat kesejahteraan rakyat menjadi suatu hal yang memungkinkan.
·                Perombakan satuan bersenjata (militer)
Pada dasarnya Engels mengembangkan konsep tentang kekuasan yang di sebut negara (kekuasaan yang muncul dari masyarakat tetapi menempatkan diri diatasnya dan lama-lama menjadi terpisah dari padanya). Kekuasaan ini menurut Engels terdiri dari atas badan-badan khusus berupa orang-orang yang di perlengkapi senjata (militer) yang mempunyai peralatan berupa penjara dan senjata.
Sehingga jelaslah bahwa militer pada awalnya tercipta dari masyarkat akan tetapi mempunyai kedudukan di atasnya karena mempunyai fungsi perlindungan, akan tetapi dalam perjalanya pasukan khusus ini terpisah dari dari masyarakat dan berdiri sendiri dan menjadi kesatuan sebagai pelindung kaum berkuasa (borjuis)
Oleh karena itu perlu adanya perombakan fungsi dari satuan militer ini agar tidak lagi menjadi penjaga kepentingan aset-aset kapitalisme internasional. Jika melihat konteks awal terciptanya militer yang bagian dari masyarakat akan tetapi mempunyai peran istimewa sebagai penjaga keamanan masyarakat ia berada maka tentunya militer harus berfungsi sebagai penjaga keamanan wilayah (territorial) dari gangguan pihak luar.
·                Perubahan produk hukum lama
Negara pada saat di kuasai oleh kelas tertentu dan dengan segala instrument yang dimilikinya telah minciptakan tata nilai yang berpihak kepada kelas berkuasa dan kapitalisme internasional. penciptaan produk hukum ini dilakukan oleh kekuasaan lama untuk mengaburkan kenyataan bahwa sebenarnya apa yang dilakukan seolah-olah demi kepentingan umum. Oleh karena itu Setelah penguasaan negara oleh rakyat dan ditegakkanya kedaulatan rakyat maka perlu adanya perombakan terhadap produk atau tata nilai yang di bangun penguasa untuk melegalkan kepentinganya. Aturan baru di buat untuk menghancurkan aturan hukum lama dan mengembalikan tata nilai dan norma kembali kefungsinnya menjadi produk hukum yang melindungi dan mensejahterakan rakyat.

Berbareng Bergerak Merebut Kedaulatan
Wujudkan Demokrasi Tuntaskan Revolusi
Bersatu Kita Menggempu
Bercerai Kita Menghimpun


Share:

Selasa, 02 Januari 2018

SIFAT-SIFAT DASAR SISTEM KAPITALISME

Sifat-Sifat Dasar Sistem Kapitalisme Sebuah Catatan

Dalam sebuah perjuangan, kita harus tahu siapa kawan dan siapa lawan. Musuh kita adalah kapitalisme. Tetapi apakah kapitalisme itu? Jawabannya mungkin tampak sederhana. Kapitalisme bukankah sebuah sistem dimana sejumlah individu yang kaya memiliki pabrik-prabrik dan perusahaan lainnya? Bukankah para kapitalis ini bersaing pada sebuah pasar bebas, tanpa perencanaan yang terpusat, dengan hasil bahwa sistem perekonomian sering jadi kacau dan acapkali mengalami krisis? Jawaban untuk menghindari keadaan seperti itu juga tampaknya jelas, ialah menyita industri dari para individu itu (nasionalisasi), dan membiarkan negara untuk merencanakan ekonominya.

Menurut kebanyakan orang yang berhaluan kiri, hal-hal diatas dianggap merupakan inti dari ajaran Marxisme. Tetapi dewasa ini permasalahan-permasalahan diatas tidak dapat dilihat sesederhana itu. Pada satu sisi, banyak perusahaan di bawah sistim kapitalis dewasa ini tidak lagi dikontrol oleh para individu. Secara formal perusahaan-perusahaan itu dimiliki oleh para pemegang saham, tapi kenyataannya masih banyak perusahaan-perusahaan raksasa yang masih dijalankan oleh para pejabat perusahaan. Sedangkan bentuk perusahaan-perusahaan lainnya adalah perusahaan negara seperti BUMN. Namun kaum buruh juga dieksploitasi dalam perusahaan tersebut.

Di sisi yang lain, masyarakat yang telah meninggalkan kepemilikan swasta dan memilih rencana-rencana ekonomi yang terpusat tidak tampak menarik lagi saat ini. Negara-negara seperti di bekas Uni Soviet telah menteror kelas buruhnya, sedangkan para birokrat yang mengelola pabrik-pabrik. Dan pada akhirnya masyarakat itu juga mengalami krisis ekonomi dan politik.

Saat ini Cina mencoba mengambil alih beberapa aspek pasar bebas ke dalam kebijakan ekonomi mereka, karena takut tidak mampu untuk tetap bersaing dengan negara-negara kapitalis barat.

Jadi keseluruhan arti kapitalisme dan sosialisme, dan perbedaan-perbedaan diantara kedua sistem itu, perlu dikaji ulang untuk disesuaikan dengan perkembangan ekonomi dewasa ini.

Disini, ide-ide Karl Marx sangatlah penting. Dia sama sekali tidak menganggap kepemilikan alat-alat produksi oleh individu swasta merupakan masalah utama kapitalisme. Yang ia tolak adalah sebuah situasi dimana alat produksi dikontrol oleh minoritas -- dalam berbagai bentuk -- untuk mengeksploitasi mayoritas.

Eksploitasi semacam ini mengambil bentuk dalam hubungan sosial di tempat kerja. Yakni para pekerja yang tidak memiliki perangkat produksi, dan tidak memiliki komoditi untuk dijual sehingga mereka harus menjual tenaga kerjanya untuk gaji (wage labour system). Ini berarti mereka tidak memiliki kontrol dari hasil kerjanya. Dalam sebuah sistem ekonomi seperti ini, tidak ada kemungkinan untuk merencanakan perekonomian demi kepentingan masyarakat luas.

Justru sebaliknya, setiap kapitalis akan didorong oleh kompetisi untuk membangun usaha dengan mengorbankan orang lain. Seperti yang dikatakan Marx, 'Akumulasi! Akumulasi! itu adalah nabi-nabi baginya'. Ini berarti yang kuat memakan yang lemah, dan sistemnya akan turun secara drastis sampai mengalami krisis ekonomi.      

Marx, menyebut kondisi seperti ini keterasingan (atau alienasi) pekerja, dan salah satu slogannya yang sangat terkenal adalah 'penghapusan sistem wage labour". Di dunia moderen, modal memiliki bentuk yang bermacam-macam. Di mancanegara terjadi swastanisasi perusahaan-perusahan milik negara. Negara-negara lain seperti Swedia atau Italia masih memiliki sektor negara yang besar, sedangkan di Cina dan Kuba perencanaan ekonominya masih dilakukan secara terpusat.

Tetapi di semua negara itu analisa fundamental Marx masih sangat relevan. Alat-alat produksi masih dikontrol oleh minoritas -- meskipun komposisinya sangat bermacam-macam dari para pengusaha individu melalui sektor swasta dan birokrat yang bekerja di sektor publik.

Para pekerja menjual tenaga mereka untuk mendapatkan gaji, dan tidak memiliki kontrol terhadap proses produksi atau barang-barang yang mereka hasilkan. Produksi dilaksanakan dengan jalan kompetisi, baik dalam skop kecil, persaingan antar perusahaan maupun dalam skop besar atau nasional, antar negara, yang dipimpin oleh aparatus negara.

Kompetisi antar negara juga memiliki bentuk yang lain yaitu kompetisi militer. Bekas negara Uni Soviet selalu mendorong ekonominya berjalan secara efisien, karena harus bersaing dengan Amerika Serikat dalam hal persenjataan. Kaum buruh di Uni Soviet dihisap oleh birokrasi yang tengah berkuasa guna kompetisi militer tersebut. Kami menyebut bentuk ekonomi yang dijalankan oleh rezim Soviet itu "Kapitalisme Negara".

Apapun bentuk kompetisi itu, hasilnya selalu sama: "Akumulasi! Akumulasi! itulah nabi-nabinya!" Sedangkan para pekerja adalah korbannya. Jadi apa yang perlu dilakukan? Jawabannya ada pada sistem sosialis yang sejati, yang berarti pekerja sendiri yang harus mengontrol proses produksi, dan memproduksi untuk kebutuhan manusia, bukan untuk kebutuhan kompetisi.

Kontrol pekerja terhadap produksi -- yang berkaitan erat dengan kontrol mereka secara demokratis terhadap negara -- dapat diterapkan di sebuah negara secara sementara. Namun seperti yang kita lihat, tekanan kompetisi berlangsung secara internasional. Maka untuk jangka panjang, sosialisme mesti diciptakan di tingkat internasional.


Ayo lawan....! ! !
Share:

Kamis, 07 Desember 2017

Kondisi Geografi Negara Timor-Leste

Negara Republik Demokratik Timor-Leste merupakan salah satu negara termuda di dunia dan di Asia Tenggara. Timor-Leste merupakan satu-satunya negara di dunia yang merdeka di abad ke XXI. Hal ini dikarenakan, kemerdekaan Timor-Leste baru diakui secara Internasional pada 20 Mei 2002, walaupun pada 28 November 1975 Fretilin telah memproklamirkan kemerdekaan Timor-Leste dengan presiden pertamanya yaitu Fransisco Xavier do Amaral.
Jika dilihat kondisi geografis, secara astronomis Timor-Leste terletak diantara garis 123º25´-127º19´ BT dan 8º17´-10º22´ LS dan menempati sebagian besar bagian timur dari pulau Timor. Termasuk pula pulau Atauro dan Jaco di bagian ujung timur, serta eksklavase Oecuss (enklave Oekusi) yang langsung berbatasan dengan Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur (NTT), Indonesia (Savio, 2015). Sedangkan secara biogeografis, Timor-Leste berada di daerah transisi antara benua Australia dan Asia yang disebut dengan Wallacea (Asian Development Bank, 2014).
Sebagai negara yang terletak diantara negara Indonesia dan Autralia, Timor-Leste memiliki perbatasan secara langsung dengan kedua negara tersebut. Bagian utara Timor-Leste berbatasan dnegan Laut Sawu dan Selat Wetar, pada bagian selatan berbatasan dengan Laut Timor yang terpisah dari Pulau Australia, perbatasn bagian barat dengan Provinsi NTT, Indoensia (National Statistics Directorate et al., 2010) dan bagian timur berbatasan dengan Laut Banda (Savio, 2015).
Timor Leste memiliki luas wilayah 14.919 km2 (National Statistics Directorate, 2006 cit. National Statistics Directorate et al., 2010). Luas tersebut terdiri dari luas daratan pada bagian timur Pulau Timor dengan luas 13.670 km2 (Barros, 1993 cit. Savio, 2015) dan ditambah luas eksklavase Oecuss seluas 2500 km2. Luas Pulau Atauro yang terletak di sebelah utara Dili seluas 144 km2 dan Pulau Jaco 8 km2 (Sandlund et al., 2001 cit. Asian Development Bank, 2014), serta memiliki panjang garis pantai 706 km2 (Asian Development Bank, 2014).
Secara umum, geografi Timor-Leste sebagian besar terdiri dari daerah pegunungan dan perbukitan dengan 44% dari luas wilayahnya merupakan daerah dengan kemiringan 40% atau lebih (Ministry of Economy and Development, 2012). Menurut Barros (1993) terdapat tujuh gunung yang ketinggiannya lebih dari 2.000 mdpl, diantaranya adalah gunung Tatamailau, Sabira, Usululi, Hutapai, Lakuloho, Keblake, dan gunung Metebian. Sedangkan Gunung Tatamailau sendiri merupakan titik tertinggi dari Timor-Leste yang berada pada ketinggian 3.000 mdpl (Ministry of Economy and Development, 2012). Untuk daerah dataran tinggi negara ini membentang di Maliana dan Baucau, sedangakan dataran rendahnya berada di sekitar tepi pantai sebelah selatan dan utara dengan rata-rata lebarnya dua sampai empat km (Savio, 2015). Dataran pesisir di selatan terdiri dari rawa dan delta sungai (World Vision, 2015).Timor-Leste memiliki ilklim tropis dengan musim hujan dan kemarau yang  menyebabkan cuaca menjadi panas dan lembab (National Statistics Directorate et al., 2010).
Secara administratif Timor-Leste dibagi menjadi 13 municipio (district)  67 Posto-Administrativo (kecamatan), dan 498 Suco dan 2.225 Aldeia (Governo Timor-Leste.2012). Ke 13 distrik tersebut adalah Ainaro (luas area 797 km2), Alieu (dengan luas area 729 km2), Baucau (1.494 km2), Bobonaro (1.368 km2), Coba-Lima (1.226 km2), Dili (327 km2), Ermera (746 km2), Lautem (1.702 km2), Liquiçá (543 km2), Manatuto (1.706 km2), Manufahi (1.325 km2), Oecussi (815 km2), dan Viqueque (1.781 km2). 30% penduduknya tinggal di perkotaan dan sisanya tinggal di daerah pedesaan (National Statistics Directorate et al., 2010).

Daftar Pustaka:
Asian Development Bank. 2014. State Of The Coral Triangle: Timor-Leste. Asian Development Bank, Mandaluyong, Filiphina.

Barros, J. 1993. Khasana Budaya, Profile dan Prospek Peluang Investasi di Timor Timur. Anjungan Daerah Timor-Timur, Jakarta.

Savio, E. C. 2015. Studi Sosiolinguistik bahasa Fataluku di Lautém. https://www.tilburguniversity.edu/upload/71c089e2-e01a-420a-b505-b326cccc50e3_Manuscript%20-%2013423.pdf. Diakses tanggal 4 Desember 2017.

Ministry Of Economy and Development. 2012. Sustainable Development in Timor-Leste. Natinoal: National Report To the United Nations Conference On Sustainable Development (UNCSD) On the Run Up To Rio+20. Ministry Of Economy and Develompent, Timor-Leste.

National Statistics Directorate (NSD) [Timor-Leste], Ministry of Finance [Timor-Leste], and ICF Makro. 2010. Timor-Leste Demographic and Health Survey 2009-10. NSD [Timor-Leste] and ICF Macro, Dili, Timor Leste.

World Vision. 2015. Country Profile: Timor-Leste. https://www.worldvision.com.au/docs/default-source/school-resources/country-profile---timor-leste.pdf?sfvrsn=0. Diakses tanggal 4 Desember 2017.

Share:

Senin, 06 November 2017

Kredo Kaum Muda

Kau akan selalu ku kibarkan dimanapun ku berada. Beban dan tanggung jawab yang kau tuangkan dalam Warna Gelapmu telah kujadikan cita-cita mutlak yang harus kutuntaskan.
Darah Juang yang kau simbolkan dalam Warna Merah mu akan kujadikan sebagai pedoman hidup bahwasannya tak akan ada perubahan tanpa adanya suatu pengorbanan. Perubahan membutuhkan pengorbanan, sekalipun nyawa jadi taruhannya.
Terimakasih karena engkau telah mengajarkan saya arti sebuah perjuangan dan pengorbanan melalui Wargan Gelap dan Warna Merah mu. Aku Lah Generasi Penerus Bangsa dan Negara Timor-Leste. Aku akan mewujudkan cita-cita yang kau tuangkan dalam warna gelapmu.
Share:

Senin, 16 Oktober 2017

Fransico Guterres Lu Olo, Presiden Timor-Leste Ke-IV

Fransisco Guterres Lu Olo, Presiden Timor-Leste Ke-IV

A.       Biografi Singkat dan Latar Belakang Pendidikan Fransisco Guterres Lu Ólo

Fransisco Guterres  atau yang biasa disebut sebagai Lú Ólo, lahir di Ossu, Municipio Viqueque, pada tanggal 7 September 1954. Dia adalah putra dari Felix Guterres dan Elda da Costa Guterres, dan  merupakan anak ke-enam dari 8 (delapan) bersaudara. Istrinya bernama Cidalia Lopes Nobre Mouzinho Guterres. Mereka dianugrahi 4 (empat) orang anak, antara lain; Fransisco Cidalino Guterres, Eldino Nobre Guterres, Felezito Samora Guterres dan Dalia Guterres.[1] Fransisco Guterres merupakan nama yang diberikan pada saat Ia dibabtis, sedangkan Lú Ólo adalah kode gerilya atau kode perjuangan selama perang melawan kolonialisme Indonesia selama masa Invasi di Timor-Leste.[2] 
Fransisco Guterrers Lu Olo
Pada tahun 1963 Lú Ólo memulai pendidikan dasar di Sekolah Dasar Santa Terezinha (Colegio Santa Terezinha) di Ossu tempat kelahirannya. Setelah lulus dari Santa Teresihnha College pada tahun 1969, Lú Ólo melanjutkan pendidikannya di Liceu Dili hingga tahun 1973. Di tahun yang sama Ia kembali lagi ke Santa Teresinha College dan menjadi guru di sekolah tersebut. Pada tahun 1974 Ia kembali ke Dili dengan tujuan untuk melanjutkan pendidikannya di perguruan tinggi. Namun karena situasi yang terjadi di Portugal serta kondisi sosial masyarakat yang Ia saksikan di Timor-Leste membuat Lú Ólo memilih bergabung dengan Fretelin yang sedang memperjuangkan kemerdekaan Timor-Leste. Lú Ólo meninggalkan pendidikannya dan bergabung dengan Fretelin pada usia 17 tahun. Pada saat itu Ia bergabung dengan tentara Força Armada da Libertação de Timor-Leste (Falintil).[3] Paska kemerdekaan Timor-Leste, pada tahun 2005, Lú Ólo kembali melanjutkan pendidikannya di Universidade Nasional Timor-Lorosa’e (UNTL) dan memperoleh gelar Strata Hukum pada tahun 2012.

B.        Alasan Lú Ólo Meninggalkan Pendidikan dan Bergabung dengan Fretilin

Alasan Lú Ólo memilih untuk mendedikasikan diri dalam perjuangan merebut kemerdekaan Timor-Leste, dikarenakan semasa Lú Ólo masih kecil, Ia sering menyaksikan tindakan kekerasan yang dilakukan oleh kolonialisme Portugal pada masa penjajahan tepatnya pada periode 1972-1973, hingga pada puncaknya ketika terjadi invasi Indonesia di Timor-Timur pada tahun 1975 dan pada massa kolonialisme Indonesia dimana terjadi banyak tindakan kekerasan yang dilakukan oleh Tentara Indonesia terhadap rakyat Timor-Timur ditambah lagi terjadinya revolusi bunga di Portugal yang mengakibatkan tumbangnya rezim Caetano, membuat Lú Ólo memutuskan bahwa hidup atau mati harus merdeka di atas tanah sendiri. Dalam wawancara yang dilakukan oleh team The Guardian di Istana Presiden Timor-Leste (Palacio do Governo de Timor-Leste) Lú Ólo menceritakan bahwa, sejak Invasi Indonesia ke wilayah Timor-Timur pada 1975, seluruh wilayah Timor-Timur mulai dari Timur hingga Barat hampir tidak sepi dengan perang yang mengakibatkan banyak koleganya yang tumbang dalam perang tersebut. “After Indonesian forces invaded the region in 1975, All of the Timorese territory from east to west was the stage for war, Many of my comrades perished in the war. Even with the people in the beginning of the war, I witnessed the killing of the population by bombardments. Through all of this, it’s what built my character as a Timorese citizen.[4] Seperti yang dijelaskan oleh Gabriel Defert bahwa dalam rentang waktu 1975 hingga 1981  atau 6 tahun pertama kependudukan Indonesia, sekitar 308.000 rakyat Timor-Leste yang kehilangan nyawa. Senada dengan Defert, Professor George Aditjondro juga mengatakan bahwa sekitar 300.000.00 penduduk Timor-Leste yang hilang pada tahun pertama setelah Invasi Indonesia.[5]
Dua minggu paska Revolusi Bunga  di Lisabon, Portugal, pada 13 Mei , Gubernur Almeida membentuk Komisi Timor untuk Penentuan Nasib Sendiri yang antara lain, mendorong terbentuknya serikat-serikat sipil.[6] Akibat dari maklumat 8 Mei 1974 tersebut maka muncullah 5 partai politik yang mejadi embrio partai politik di Timor-Leste. Kelima partai tersebut anatara lain; Partai UDT (União Democratica Timorense) terbentuk pada 11 Mei 1974, partai ASDT (Associção Social Demoratica Timorense) terbentuk pada 20 Mei 1974 dan bertransformasi menjadi partai Fretilin pada 11 September 1974, AITI (Associação Integração de Timor-Indonesia) yang kemudian bertransformasi menjadi APODETI (Associação Popular Democratica Timorense), dan partai yang muncul belakangan yaitu partai KOTA (Klibur Oan Timor Assua’in) yang dibentuk pada 27 Mei 1974, dan Partai Trabalhista (Partai Buruh) yang dibentuk akhir bulan september.[7]
Dari kelima partai poltik tersebut, salah satu partai yang menurut Lú Ólo dapat mengatasi persoalan yang terjadi di Timor-Timur, Partai yang berpihak kepada rakyat dan partai yang berjuang merebut kemerdekaan bagi rakyat Timor adalah partai Fretilin. Alasan itulah yang membuat Ia memilih bergabung dengan partai Fretilin dan meninggalkan pendidikannya.[8] Sebab, Fretilin adalah satu-satunya partai politik di Timor-Timur yang memperjuangkan hak untuk menentukan nasib sendiri bagi rakyat Timor-Timur (the right of the East-Timorese to independence).[9]
Selama massa perang, Lú Ólo menyaksikan banyak koleganya yang terbunuh, salah satu tokoh penting dari Fretilin yang terbunuh waktu itu adalah presiden pertama partai Fretilin, yaitu Nikolau Lobato, selain itu Konis Santana dan kawan-kawannya yang lain. Kematian koleganya itu tidak membuat Lú Ólo menyerah, bagi Lú Ólo hidup atau mati harus merebut kemerdekaan. Kepada team The Inside Story, Lú Ólo menceritakan bahwa; 'In many places I have been, I became emotional, I had tears in my eyes. This happens rarely. What's important is to understand what these tears signify. What they signify is the hope that exists in Fretilin. This is something to consider for the future: what Fretilin will do to serve those people who gave their trust and hope for Fretilin. Many leaders left their blood, their souls and their lives in the mountains. As did many soldiers and the people in the villages who died. There are many whose graves we've never found. Today we're here to honour them and, together with Fretilin, to move forward.[10]
Lú Ólo keluar dari tempat gerillya pada tahun 1999. Ini kali pertama Lú Ólo bertemu dengan keluarganya yang ditinggalkan selama 24 tahun. Selama massa perang, keluarga Lú Ólo sering mendapat tindakan intimidasi dan kekerasan dari Tentara Indonesia agar Lú Ólo bisa menyerahkan diri. Namun hal itu tidak membuat Lú Ólo menyerah justru menjadi tantangan bagi Lú Ólo untuk terus berjuang. João da Costa (sepupu Lú Ólo) menceritakan kepada Team The Inside Story bahwa; During the Indonesian invasion, because we were related to Lú Ólo, some of us were tortured. The ones left behind suffered as much as the ones taken to prison in Aatauro. We couldn't work in the rice fields far away or travel long distances because they thought we'd contact Lú Ólo.[11] Lebih lanjut Lú Ólo menjelaskan bahwa; In 1991 the Indonesian's discovered that I was still alive in the mountains so they sent my family to prison. They tried to force me to surrender but I didn't surrender. It made me stronger and more determined to resist the Indonesian vandals. From that moment I didn't care if I died. So I decided to die in the mountains, but fortunately I didn't die and most of my family are still alive.
Setelah tewasnya Nikolão Lobato dan beberapa tokoh utama dalam internal Fretilin, Xanana Gusmão tampil mengambil ahli kepemimpinan Fretilin pada 1981. Bersamaan dengan itu, strategi perjuangan lebih dititikberatkan pada perang politik dan diplomasi. Namun demikian, efektifitas aksi-aksi militer tetap diperhitungkan sebagai tanda tetap adanya perlawanan dari Fretilin. Maka dibentuklah suatu badan otonom yang diberi tugas melakukan perlawanan bersenjata, yaitu CRRM (Commando Revolucionario da Resistencia Maubere) yang posisinya masih dibawah komando atau kontrol Komite Sentral (CC) Fretilin dan membawahi secara khusus angkatan bersenjata Falintil (Forcas Armadas da Libertaçao Nacional de Timor-Leste). Setahun setelah konferensi partai Fretilin di Aitana pada 1987, strategi perjuangan Fretilin diubah menjadi perlawanan seluruh rakyat Timor-Timur tanpa memandang afiliasi partai politiknya dengan membentuk CNRM (Conselho Nasional Resistencia Maubere) sebagai organisasi yang memayungi seluruh kekuatan perlawanan rakyat Timor-Timur yang terdiri dari tiga front perjaungan yaitu; Front Diplomatik, Front Klandestine, dan Front Armada (Falintil). Front Diplomatik dipimpin oleh Jose Manuel Ramos Horta yang melakukan negosiasi tentang hak penentuan nasib sendiri bagi TimorTimur, Front Klandestine terdiri pelajar, pemuda, mahasiswa hingga pegawai negeri sipil anti-integrasi yang memobilisasi diri dalam organisasi perlawanan seperti Renetil, Impettu, Dewan Solidaritas Mahasiswa Timtim, Forsa Repetil Fitun, Sagrada Familia, Ojetil, dan lain sebainya. Kelopok inilah yang menjadi basis perjuangan Front Armada atau tentara Falintil,  dan yang terakhir front Armada Falintil merupakan kelompok bersenjata yang berjuang di hutan-hutan.[12]
Lú Ólo sendiri bergabung dalam Front Armada (Falintil) bentukan Fretilin[13] dan berperan penting di dalam front Klandestin. Dimana dia sebagai penyambung lidah antara kelompok anti-integrasi yang tergabung dalam front klandestine dengan para petinggi pejuang dalam Komite Sentral Fretilin dengan memberikan informasi yang diperoleh dari masyarakat anti-integrasi kepada pemimpin Fretilin dan Front Armada. Pada awal 1990-an ketika terjadi penangkapan terhadap beberapa figur politik seperti Rankadalak di tahun 1991, Xanana Gusmão di tahun 1992, dan Bukar di tahun 1993 serta kematian Konis Santana pada 1997 menimbulkan terjadinya perubahan di dalam internal Fretilin dan Falintil. Lú Ólo yang pada waktu itu belum tertangkap dengan segera mengambil inisiyatif untuk mengambil posisi sentral dalam internal Fretilin yaitu menjadi pemimpin dalam partai Fretilin.[14]
Peralihan kekuasaan pemerintahan Republik Indonesia dari Presiden Soeharto ke tangan Habibie pada bulan Mei 1998 memberikan harapan bagi para pejuang kemerdekaan Timor-Leste. Pada tanggal 27 Januari 1999, Presiden Republik Indonesia mengumumkan dua opsi bagi rakyat Timor-Timur (sebutan Timor-Leste pada massa integrasi) yang pada dassarnya menyerahkan keputusan akhir massa depan kawasan tersebut kepada masyarakat Timor-Timur sendiri. Dalam hal ini, masyarakat Timor-Timur dapat menentukan keputusannya melalui proses jajak pendapat untuk setuju atau menolak tawaran status Daerah Otonomi Khusus (DOK) yang diberikan. Jika mayoritas penduduk memilih status Otonomi Khusus, Timor-Timur akan tetap menjadi bagian integral dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sebaliknya, jika penawaran Otonomi Khusus ditolak, maka Timor-Timur akan berpisah dari Indonesia dan menentukan nasib sendiri.[15] Dari hasil jajak pendapat yang dilakukan pada tanggal 30 Agustus 1999, sebanyak 78.5% suara menolak tawaran DOK.[16] Pada tahun 20 Mei 2002, Timor-Leste diakui secara Internasional sebagai negara yang merdeka dan berdaulat.

C.        Latar Belakang Politik dan Militer.

Perjalanan karir politik Lú Ólo dimulai ketika Ia memutuskan untuk bergabung dengan tentara gerilyawan yang memperjuangkan kemerdekaan Timor-Leste. Pada tahun 1974 Lú Ólo bergabung dengan partai ASDT yang dibentuk pada 20 Mei 1974 sebagai simpatisan dan menjadi anggota militansi partai Fretilin setelah partai ASDT bertransformasi menjadi Partai Fretelin pada 11 September 1974. Alasan Lú Ólo bergabung dengan partai ASDT dikarenakan Ia tertarik dengan platform partai yang ingin mendirikan negara Timor-Leste yang berdaulat guna mewujudkan kedaulatan rakyat bagi rakyat Timor-Leste. Manifesto Partai Fretilin menyerukan penolakan terhadap kolonialisme partisipasi segera orang Timor dalam pemerintahan lokal, dan diakhirinya diskriminasasi rasial, perjuangan melawan korupsi, dan hubungan baik dengan negara-negara tetangga.[17] Ketika terjadi invasi Indonesia pada tahun 1975, Lú Ólo bergabung dengan tentara pejuang kemerdekaan yang dipimpin oleh Lino Osaka, di Ossu. Sekaligus menjadi pemimpin di Comite Central Fretilin.
Kendati karir politik Lú Ólo tidak se-cemerlang karir politik Xanana Gusmão, Ramos Horta maupun Mari Alkatiri. Namun demikian, Lú Ólo juga merupakan salah satu politisi karismatik dan dihormati di Timor-Leste. Hal ini dikarenakan Lú Ólo adalah seorang mantan pejuang perlawanan yang menghabiskan seluruh 24 tahun di pegunungan selama masa invasi Indoenesia. Paska 1999 Lú Ólo merupakan pemimpin paling senior Fretilin di dalam negeri. Selain itu, Ketika terjadi kesulitan dalam perjuangan yang disebabkan oleh lemahnya basis perlawanan akibat penangakapan beberapa figur politik dan tewasnya beberapa pemimpin gerilyawan, Lú Ólo memgambil ahli dalam perjuangan sebagai komisaris politik baik di internal Fretilin maupun dalam Front Armada. Hal inilah yang kemudian membuat Lú Ólo dihormati di Timor-Leste.
Selama massa perang, Lú Ólo pernah menjabat di beberapa posisi dalam Fretilin, antara lain; pada tahun 1976 Lú Ólo menjabat sebagai Wakil Sekretaris região III[18] (wilayah perlawanan bagian Timur pegunungan Matebian) yang dipimpin oleh  Falur Rate Laek alias Raul. Pada tahun 1979-1978, Ia menjabat sebagai Komisaris Politik Ponta Leste. Tahun 1993, ketika Mau Huno dan Xanana ditangkap, Lú Ólo mengambil posisi sebagai Wakil Sekretaris Komisi Kebijakan Fretilin (Comissão  Directiva da Fretilin) dan pada tahun 1997 ketika Konis Santana meninggal, Lú Ólo naik ke posisi sekretaris CDF yang dipimpin oleh Konis Santana sebelumnya.[19] Pada periode 1998-1999 Lú Ólo menjabat sebagai presiden Fretilin, setelah Konferensi Fretilin yang diselenggarakan di Sidney-Australia. Pada periode 2001- 2005 Ia terpilih kembali menjadi presiden Fretilin untuk periode 5  (Lima Tahun), dan terpilih kembali pada periode 2006-2011.[20] Pada periode September 2001 – Mei 2002 Lú Ólo terpilih sebagai Presiden Majelis Konstituante lewat kemenangan partai Fretilin dalam pemilihan umum anggota Majelis Konstituante[21] yang dilakukan pada 30 Agustus 2001 dengan perolehan 55 kursi dari 88 kursi Parlemen. Majelis Konstituante bertugas untuk mempersiapakan Undang-Undang Dasar bagi Timor-Timur yang merdeka dan demokrasi.[22] Setelah kemerdekaan Timor-Leste, Majelis Konstituante bertransformasi menjadi Parlemen Nasional Timor-Leste, Lú Ólo diangkat menjadi presiden Parlmen Nasional Timor-Leste mulai dari tahun 2002 hingga tanggal 31 Juli 2007.[23] Pada tahun 2007 tampil sebagai kandidat dari partai Fretilin. Ia mendeklarasikan pencalonan setelah menang voting yang dilakukan oleh partai Fretelin. Isu yang dibawa Lú Ólo pada waktu itu adalah penyelesaian konflik yang terjadi dalam kubu tentara Timor-Leste (FDTL) dan kepolisian Timor-Leste (PNTL).

D.           Faktor Kegagalan Lú Ólo dalam Pemilu 2007 dan 2012

Seperti dijelaskan sebelumnya, bahwa paska didemisioner dari Presiden Parlemen Nasional Timor-Leste, Lú Ólo kembali bermain di dunia politik Timor-Leste dengan mencalonkan diri dalam ajang perebutan kursi kepresidenan Timor-Leste pada tahun 2007 dan 2012. Keinginan Lú Ólo ingin menjadi pemimpin di negara Timor-Leste bukan tanpa alasan. Lú Ólo mengetahui, paska Timor-Leste melepaskan diri dari NKRI, belum ada perubahan signifikan di kehidupan rakyat Timor-Leste. Kondisi seperti kurangnya lapangan pekerjaan, kurangnya akses pendidikan, kesehatan, air bersih masih menjadi persoalan bagi rakyat Timor-Leste. Dampak dari semua itu, sering terjadi tindakan kekerasan atau kerusuhan antar pemuda maupun pelajar. Hingga pada puncaknya terjadinya krisis 2008 yang menewaskan mayor Alfredo Reinaldo Alves. Kurangnya lapangan pekerjaan juga membuat banyak pemuda yang mencari pekerjaan di luar negeri, seperi di Korea Selatan, Inggris dan lain-lain. Namun dikarenakan beberapa faktor yang menjadi penghambat, keinginan Lú Ólo untuk menjadi pemimpin di Timor-Leste tidak menghasilkan kesuksesan.
Terdapat beberapa hal yang menjadi faktor kegagalan Lú Ólo dalam pemilihan presiden Timor-Leste tahun 2007 dan 2012. Pada pemilihan presiden tahun 2007, Lú Ólo ikut mencalonkan diri untuk merebut kursi kepresidenan di Timor-Leste yang membuat Lú Ólo bertarung dengan 8 (delapan) kandidat pada pemilihan presiden putaran pertama. Dari kedelapan kandidat tersebut, kandidat yang paling diunggulkan adalah José Manuel Ramos Horta. Hal ini dikarenakan tokoh penerima hadiah Nobel Perdamaian tahun 1999 dan mantan pemimpin kelompok Maputo serta mantan Menteri Luar Negeri tersebut mendapatkan dukungan dari tokoh karismatik dan mantan geryliawan Xanana Gusmão dengan partainya. Seperti diketahui, Xanana Gusmão merupakan mantan gerilyawan dan pemimpin CNRT yang hingga saat ini masih memiliki pengaruh besar di panggung politik Timor Leste. 
Dukungan Xanana Gusmão dengan partainya berhasil mengantarkan Ramos Horta lolos ke pemilihan putaran kedua, dimana pada putaran pertama yang dilaksanakan pada 9 April 2007, Ramos Horta berhasil meraih suara sebanyak 21.81%, dibawa kandidat partai Fretilin, Fransisco Guterres Lú Ólo yang memperoleh suara sebanyak 27.89% suara. Oleh karena, tidak ada kandidat yang meraih suara mayoritas 50%+1 suara dalam pemilihan putaran pertama, maka akan digelar pemilihan putaran kedua yang akan diikuti oleh dua kandidat peraih suara terbanyak sesuai dengan Undang-Undang yang berlaku.[24]
Pada pemilihan putaran kedua yang diselenggarakan pada 9 Mei 2007, Ramos Horta kembali mendapatkan dukungan dari empat partai sekaligus.[25] Keempat partai tersebut antara lain; Partai PD yang dipimpin oleh Fernando de Araujo La Sama yang memperoleh suara 19.18% pada pemilu putaran pertama, Fransisco Xavier do Amaral (ASDT) dengan perolehan suara 14.39%, Lucia Lobato (PSD) dengan perolehan suara sebanyak 8.86%, serta João Carascalão (UDT) dan Avelino Coelo (PST), yang masing-masing memperoleh suara sebanyak 1.72% dan 2.06%. Sementara kandidat dari partai Fretilin hanya didukung oleh Manuel Tilman yang hanya memperoleh 4% suara.[26]
Dukungan dari ke empat kandidat yang gagal melanjutkan ke pemilihan putaran kedua ditambah lagi dengan dukungan dari Xanana Gusmão, akhirnya mengantarkan Ramos Horta menjadi presiden Timor-Leste dengan perolehan suara sebanyak 69.18 % suara, mengalahkan Fransisco Guterres Lú Ólo yang hanya memperoleh suara sebanyak 30.82% suara.[27] Dengan demikian, kekalahan Fransisco Guterres Lú Ólo dari Ramos Horta pada pemilu presiden 2007, dikarenakan kurangnya strategi dan taktik yang digunakan oleh partai Fretilin dalam pemilu tersebut. Misalnya tidak membangun koalisi atau mencari dukungan dari partai lain seperti yang dilakukan oleh Ramos Horta. Bahkan mantan presiden Timor-Timur pada 1975 yaitu Fransisco Xavier do Amaral pun tidak memberikan dukungan terhadap kandidat Lú Ólo, melainkan memberikan dukungannya kepada Ramos Horta. Padahal Fransisco Xavier merupakan tokoh pendiri partai Fretilin yang bertransformasi dari partai ASDT pada tahun 1974.
Faktor lain yang menjadi penyebab kekalahan Lú Ólo dalam pemilu 2007 adalah hilangnya kepercayaan dari rakyat Timor-Leste, baik kalangan intelektual maupun pihak gereja terhadap Fretilin yang dianggap gagal dalam membangun pemerintahan selama 5 tahun periode 2002-2007. Bagi kalangan intelektual dan pihak gereja, Fretilin selama 5 tahun memimpin pemerintahan, tidak ada perubahan yang singifikan. Kehilangan kepercayaan ini juga diperkuat oleh tersingkirnya mantan Sekretaris Jenderal partai Fretilin, Mari Alkatiri dari jabatan Perdana Menteri menjelang pemilihan presiden, akibat gagal menangani krisis politik yang terjadi pada waktu itu.[28]
Selain itu, faktor lain yang menjadi penyebab gagalnya Lú Ólo dalam pemilu prsiden 2007 dikarekana adanya perpecahan di internal partai Fretilin menjelang pemilu. Perpecahan ini berawal dari tertutupnya (secret ballot bukan show hand/terbuka) mekanisme votting atau pemilihan sekjend partai baru yang digunakan dalam konggres partai Fretilin yang dilaksanakan pada bulan Mei 2006 yang membuat sekjend Mari Alkatiri terpilih kembali. Akibatnya banyak kandidat yang mengundurkan diri dari pencalonan Sekjen, bahkan memboikot pemilihan. Kelompok pemboikot ini dinamakan Frente Mudansa (Reformis).[29] Selanjutnya beberapa tokoh yang tergabung dalam kelompok ini keluar dari partai Fretilin dan membentuk partai baru yang dinamakan Fretelin Mudansa yang dipimpin oleh Jusé Luis Guterres.[30]
Walaupun José Luis Guterres dengan partainya tidak mengikuti pemilihan presiden tahun 2007, namum nampaknya anggota partai tersebut memberikan dukungan terhadap Ramos Horta. Hal ini dapat dilihat dari bukti bahwa paska Xanana Gusmão ditetapkan menjadi Perdana Menteri, Xanana langsung menunjuk José Luis Guterres menjadi Wakil Perdana Menteri.[31]
Pada pemilihan presiden Timor-Leste tahun 2012, Lú Ólo kembali dicalonkan oleh partai Fretilin. Alasan yang melatarbelakangi Lú Ólo kembali bermain dalam ajang perebutan kursi kepresiden Timor-Leste ini masih sama, yaitu, Lú Ólo menganggap bahwa kehidupan rakyat masih jauh dari kata sejahtera. Oleh karena itu, Lú Ólo ingin memperbaiki kehidupan rakyat dan membangun negara mulai dari akar rumput. Ia ingin membangun negara mulai dari aspek pendidikan, aspek kesehatan, aspek pertanian dan lain sebagainya.
Pada putaran pertama pemilihan presiden Timor-Leste tahun 2012, Ló Ólo berhasil mengalahkan lawan-lawannya dengan meraih suara terbanyak yaitu 28.76% suara dari jumlah suara sah. Oleh karena tidak ada kandidat yang meraih suara mayoritas lebih dari 50%+1 dari jumlah suara sah. Maka Lú Ólo bersaing merebut kursi kepresiden Timor-Leste melalui pemilihan putara kedua dengan kandidat Mayor Jenderal Taur Matan Ruak yang juga memperoleh suara terbanyak kedua pada pemilihan putaran pertama tersebut dengan perolehan suara sebanyak 27.51% suara dari jumla suara sah.[32]
Pada pemilihan putaran kedua yang diselenggarakan pada tanggal 16 April 2012. L’u Ólo kalah telak dari Mayor Jenderal Taur Matan Ruak memperoleh suara sebanyak 61.23%, dibandingkan dengan Lú Ólo yang hanya memperoleh 38.77% suara.[33] Hal ini dikarenakan Taur Matan Ruak mendapatkan dukungan penuh dari Xanana Gusmão dengan partai CNRT. Seperti diketahui, Xanana merupakan tokoh karismatik yang pengaruh politiknya masih kuat di Timor-Leste. Kemenangan Ramos Horta dalam pemilihan presidien Timor-Leste 2007 dikarenakan adanya dukungan dari Xanana Gusmão. Bahkan jauh sebelum pemilihan putaran kedua dimulai, tokoh-tokoh politik sudah memprediksi akan kemenangan Taur Matan Ruak. Florenci Mario Viera, mengatakan, jika lolos ke pemilihan putaran kedua adalah Lú Ólo dan Taur Matan Ruak, maka Taur akan menang mutlak, karena mendapatkan dukungan penuh dari PM Timor-Leste dan mantan presiden, Xanana Gusmão.[34] Dukungan partai CNRT terhadap Taur Matan Ruak diumumkan langsung oleh Sekretaris Jenderal partai CNRT, Deonisio Babo dan Ketua Komisi Politik Nasional Partai CNRT, Fransisco Kalbuady dalam sebuah konferensi pers di markas besar CNRT di Bairo Dos Grilos ,Dili pada 11-12 Januari 2012.[35]




[1] . Lili Vanna. 2001. Biografi Lu Olo Pemimpin Partai Fretelin. Lian Maubere Edisi XXXIII. Diakses dari: https://wn.com/biografi_lu_olo_pemimpin_partai_fretilin
[2] . Kata Mari Alkatiri kepada team abc di markas besar Fretilin pada saat perayaan ulang tahun Lu Olo. Dikases dari: http://www.abc.net.au/etimor/epis2.htm
[4] . Helen Davidson. 2017. Timor-Leste president Francisco 'Lu’Olo' Guterres: a product of war now pushing for peace. Diakses dari: https://www.theguardian.com/world/2017/jun/08/timor-leste-president-francisco-luolo-guterres-a-product-of-war-now-pushing-for-peace
[5] . A. Barbedo de Magalhães. 2004. East Timor: The Struggle For Freedom. Hal 2. Dikutip dari: http://www.fd.uc.pt/igc/pdf/papers/EastTimor_thestruggleforfreedom_March2004.pdf
[6] . Chega.2010. Laporan Komisi Penerimaan Kebenaran dan Rekonsiliasi Timor-Leste (CAVR). Volume I. Hal 201
[7] . Tempo, Majalah Berita Mingguan. 1975. Duduk Perkara Kekacauan. Dikutip dari Dokumen Pra- Integrasi Timor-Timur 1975 yang dipublikasi oleh Biro Informasi dan Data. Hal 35
[8].Pernyataan ini merupakan pernyataan Lu OLO yang disampaikan kepada team journalist timoroaman.com dalam wawancara yang dilakukan pada tanggal 20 Mei 2013. Dalam wawancara tersebut menggunakan bahasa resmi Timor-Leste, Bahasa Tetum. Sumber Tulisan www.timoroman.com atau http://exilados-tl.blogspot.co.id/2013/05/dedikasaun-lu-olo-iha-luta.html
[9] . Estevão Cabral. 2003. Fretelin and The Strunggle For Independence In East Timor 1974-2002. An examination of the constraints and opportunities for a non-state nationalist movement in the late twentieth century. Lancaster University. Hal 20
[11] . Pernyataan#d ini dikutip dari video dukomenter Fransisco Guterres Lu Olo yang diproduksi oleh Australian Movie Ltd, dengan judul East Timor Birth of Nation, Lu Olo Story yang dikases dari: https://www.youtube.com/watch?v=vMBoBRDB8Ao
[12]. Zacky Anwar Makarim. Dkk. 2003. Hari-Hari Terakhir Timor-Timur, Sebuah Kesaksia..Enka Parahiyangan. Jakarta. Hal 79-84
[13]. Op. Cit. Estevão Cabral. 2003.  Hal 22
[14]. Op. Cit. Estevão Cabral. 2003. Hal 440
[15]. Zacky Anwar Makarim. Dkk. 2003. Hari-Hari Terakhir Timor-Timur, Sebuah Kesaksia..Enka Parahiyangan. Jakarta. Hal 28
[16]. Ibid. Zacky Anwar. M. Hal 42
[17]. Geoffrey C. Gunn.2005. 500 Tahun Timor- Lorosa’e. Sa’he Intitute of Liberation. Dili. Hal 411.
[18] . Selama perang, organisasi bersenjata FALINTIL membagi Timor-Timur kedalam empat região (wilayah) perjuangan. Região I dipimpin oleh Titu da Costa alias Lere Anan Timor. Kawasan perjuangan mereka meliputi seluruh Kabupaten Lospalos dan seluruh wilayah timur Kabutpaten Baukau. Região II dipimpin oleh Sabica. Wilayah perjuangan meliputi Kabupaten Viqueque, dan wilayah barat Kabupaten Baukau, wilayah selatan dan timur Kabupaten Manatuto. Região III dipimpin oleh Falur Rate Laek alias Raul. Wilayah perjuangan meliputi seluruh Kabupaten Dili, Aileu, Same, Manatuto Utara, Ainaro Timur, Ermera Timur, dan Liquica Timur. Região IV dipimpin oleh Ular alias Asiuk. Wilayah perjuangan meliputi Kabupaten Bobonaro, Coba-Lima, Ermera Barat, Liquica Barat, dan Ainaro Barat. Lihat; Zacky Anwar.dkk. Hari-Hari Terakhir Timor-Timur; sebuah kesaksian. Hal. 80.
[19]. Api-Uku. 2012. Biografia Comandante Nino Konis Santana. Diakses dari: ita-nian.blogs.sapo.tl
[20]. Anonim. 2017. Short Biography, H.E. Fransisco Guterres Lu Olo. Diakses dari: ccln-media.squarespace.com/s/Bio-Lu-Olo-020417.pdf
[21]. Boletim24. 2017.Perfil-Fransisco Guterres Lu Olo, Eis Presidenti Parlamento Nacional Povo Hili Sai Presindenti RDTL. Diakses dari: http://www.boletim24.com/tet/2017/03/22/perfil-francisco-guterres-lu-olo-eis-prezidenti-parlamento-nacional-povu-hili-sai-prezidenti-rdtl/
[22]. Kristio Wahyono. 2010. Sepuluh Tahun Tragedi TimTim: Timor Target. Hal 87-89
[23]. Tulisan ini dikutip dari artikel yang ditulis oleh Team Sukses Fransisco Guterres Lu Olo tentang Curriculum Vitae Fransisco Guterres Lu Olo yang dimuat dalam artikel Fretelin.Media pada 25 Juli 2011. Sumber dari tulisan ini masih menggunakan domain blogspot, namun dijamin kepercayaanya sebab dalam blog tersebut dicantumkan kontak person dari Anggota Parlemen (Deputado) Jose Terxeira, (+670 728 7080) serta email Media FretIlin (fretilin.media@gmail.com). Sumber tulisan: http://fretilinmedia.blogspot.co.id/2011/07/curriculum-vitae-francisco-guterres-lu.html
[24] . Op.Cit. Kristio Wahyono. Hal 250
[25] .Ibid. Kristio Wahyono. Hal 257
[26] . CNE. 2007. Eleisaun Prezidenter 2007 Republica Democratika de Timor-leste. ACTA Final Apuramentu Nacional. Hal 1
[27] . EU Election Observation Mission (EU EOM).2007. Final Report, Timor-Leste  Presidential & Parliamentary Election. Hal 7
[28] . Op. Cit. Kritio Wahyono. Hal 258-259
[29] . Ibid. Hal 264
[30] . Fundasaun Mahein. 2011. Potensi Ancaman Keamanan Menjelag Pemilu 2012. Mahein Nia Lian. No.19,28 Abril 211. Hal 4
[31] . Op.Cit. Kristio Wahyono. Hal 266
[32] . STAE (Sectretario Têcnico da Adminstração Eleitoral). 2012. Timor-Leste Eleições Gerais de 2012.STAE. Dili. Timor-Leste. Hal 5. Diakses dari: https://issuu.com/publicacoes.stae/docs/timor-leste__elei__es_gerais_de_2012
[33]. Ibid. STAE. Hal 53
[34] . Antaranews.com. 2012. Lú Ólo Unggul Sementara Dalam Pilpres Timor-Leste. Diakses dari: http://www.antaranews.com/print/301932/lu-olo-unggul-sementara-dalam-pilpres-timor-leste
[35] . Ita Lismawati F.Malau. 2012. Partai CNRT Dukung Capres Taur Matan Ruak. Diakses dari: http://www.viva.co.id/berita/dunia/291186-partai-xanana-gusmao-dukung-capres-taur-matan
Share:

Total Pageviews

Theme Support